Pages

Thursday, July 27, 2017

Kuta Melaka Water Park

Pada saat liburan December 2016, kami sempat berkunjung ke semua taman permainan air yang bernama Kuta Melaka. Lokasinya pun di Kuta Melaka, Samahani. Cukup jauh juga jika kita bergerak dari Jeulingke, Banda Aceh. Begitu sampai di lokasi taman permainan, kami disambut oleh tukang parkir yang meminta jasa parkir sebesar 10 ribu rupiah. Tiket per orang ada 25 ribu rupiah pada hari kerja dan 35 ribu rupiah pada hari pekan. Menurutku, harga tiketnya sangat terjangkau karena biasanya keluarga yang pergi kesini membawa rombongan yang cukup banyak juga. Saat itu kami ada 10 orang yaitu Bapak, Mama, Cut Hab, aku&Zafir, Rayyan, Faris, Rina, Bang Jufni, Malikal dan Taya. Begitu selesai urusan pembelian tiket, kami mulai masuk dan mencari pondok yang nyaman untuk kami beristirahat dan makan. Setelah keliling agak lama, akhirnya kami dapat tempat yang cukup strategis karena lokasinya dekat sekali dengan 1 kolam besar.

Di dalam tempat permainan ini sangat luas sekali. Terdapat berbagai macam jenis kolam yang bisa di coba. Kami hanya mencoba 3 tempat yaitu 1 kolam besar di hadapan pondok kami, kolam sungai, dan 1 kolam yang ada pelosotan dan timba air super besar. Kolam besarnya cukup aman karena tidak terlalu dalam. Kolam sungainya agak berbahaya lama cukup dalam sehingga anak-anak harus benar-benar dijaga. Kolam yang ada pelosotanlah yang sangat berbahaya. Aku sampai jantungan melihat anak-anak bercampur orang dewasa yang bermain pelosotan yang sangat tinggi. Yang membuat aku jantungan adalah besarnya kemungkinan anak kita tertimpa orang yang di belakangnya. Apalagi kalau orang di belakangnya mempunyai ukuran badan yang jauh lebih besar. Benar-benar menyeramkan. Kami memutuskan untuk segera meninggalkan kolam tersebut sebelum menyesal. Kami pun kembali ke kolam pertama di dekat pondok.

Yang membuat teman permainan di banda aceh mengasyikkan adalah kita boleh membawa makanan sendiri. Mulai dari makanan ringan sampai makanan berat. Tidak dilarang sama sekali. Hari itu kami memasak bihun goreng, membawa nasi putih, daging kari, tauco, dan kerupuk. Tak lupa makanan ringannya berupa roti goreng telur dan roti isi selai. Air minumnya tinggal diangkut aja galon air mineral. Jangan lupa untuk membawa makan yang untuk bisa 3 sampai 4 kali makan ya. Main air itu menguras tenaga dan bikin anak-anak pada lapar. Mereka bisa makan berkali-kali sepanjang hari kami berada di sana. Bukan cuma anak-anaknya aja sih, kami yang dewasa juga begitu.

Kelebihan lain tempat permainan air Kuta Melaka adalah ruang ganti dan mandinya sangat luas dan bersih. Designnya pun terkesan modern. Airnya lancar dan bersih. Ada tempat mandi dan tempat bertukar pakaian. Tersedia juga jasa sewa locker untuk menyimpan barang-barang yang dianggap berharga.

Kualitas air sudah cukup lumayan menurut pandangan mata saya. Seperti halnya kolam renang lainnya, airnya tetap berbau kaporit yang tujuannya untuk menghilangkan kuman. Tidak banyak sampah di dalam air kecuali daun-daunan yang berguguran dari banyaknya pohon di sekeliling kolam. Jumlah kolam pun banyak dengan atraksinya masing-masing. Ada satu kolam yang agak sedikit berbahaya menurut saya. Satu kolam yang ada pelosotan besar dan tinggi. Kalau kita yang sudah turun duluan tidak segera bergerak menjauh dari pelosotan, bisa-bisa orang yang selanjutnya turun dari pelosotan menimpa kita dengan keras dan mungkin berakibat fatal. Melihat kondisi tersebut, kami pun segera menjuah dari kolam tersebut.

Ongkos sewa ban pun cukup terjangau di kantong kami. Bannya besar, kuat dan kokoh untuk orang dewasa. Tapi ya kita harus menjaga ban yang kita sewa elok-elok karena ada saja orang iseng yang sesuka hati mengambil ban-ban sewaan orang lain yang tidak diawasi.

Pengalaman kedua ke sini  cukup menggembirakan. Semua orang senang terutamanya anak-anak.

Wednesday, January 4, 2017

Liburan ke Banda Aceh

Setelah hampir 2 tahun setengah bekerja di perusahaan ini, akhirnya kami sekeluarga berhasil pulang ke kampung halaman tercinta di Banda Aceh untuk menikmati liburan. Liburan kali ini bersamaan juga dengan acara pernikahan adikku. Liburan selama 2 minggu (13 Dec - 27 Dec 2016) ini menjadi pengalaman yang tidak terlupakan untuk aku. Puas sekali menikmati liburan kali ini.

Hari Pertama (Selasa, 13 Dec 2016)
Hari senin malamnya kami sudah berada di rumah kakak sepupu di Pantai Dalam. Tujuan utama kami berada di sini supaya mudah untuk cari UBER pas jam 2 pagi mau berangkat ke airport. Lokasi rumah kami di pinggiran Gombak yang pastinya pilihan UBER sangat terbatas sekali. Keputusan yang tepat sekali. Sekitar jam 3 pagi, aku mulai membuka aplikasi UBER di HP aku untuk untuk mencari UBER XL dan langsung saja ada UBER driver di sekitaran rumah kakak sepupu. Aku langsung book dan dalam 10 menit, langsung nyampe. Berangkatlah kami ke airport. Tidak sampai 1 jam, kami sudah sampai di airport KLIA2. Sesampai di airport, kami pun menunggu sambil di bukanya waktu untuk check in barang yaitu sekitar jam 5 pagi. Setelah beres urusan check in, kami langsung ke kedai mamak di atas tempak masuk untuk boarding. Sekedar mengisi perut sedikit. Menjelang Subuh, kami memutuskan untuk langsung aja masuk dalam salat di ruang tunggu aja. Selesai salat subuh, kami menunggu di GATE keberangkatan yang ternyata belum buka. Akhirnya duduk-duduk aja sampe ketiduran. Tiba saatnya untuk masuk ke dalam pesawat. Kali ini suami membelikan HOT Seat untuk kami semua demi kenyamanan perjalanan dengan 2 anak beserta ibu mertua. Akhirnya dalam waktu kurang dari 1 jam setengah, kami sampai di Banda Aceh. Setelah selesai urusan imigrasi dan bagasi, kami menunggu di luar. Rencananya sih Bapak, Mama dan Rina akan menjemput kami. Di luar sudah ada Cut Dah, adik iparku yang kesini dengan motor. Setelah menunggu, akhirnya sampai lah juga Bapak, Mama, dan Rina. Kami langsung deh meluncur ke rumah. Sampai di rumah, aku langsung minta makan, lapar.... Setelah makan, kami pun duduk-duduk dan ngobrol-ngobrol. Tiba-tiba aku ngantuk berat dan terus naik ke atas buat tidur. Aku benar-benar tertidur pulas sampai Asar. Selama aku tidur, rupa-rupanya Rayyan dan Zafir di bawa Rina naik mobil. Cut Dah juga ikut. Mereka mau ke Blang Rakal buat pesan daging. Pulang dari situ, singgah ke Ule Lheue sekedar liat laut. B'fahmi sudah tertidur di kursi bawah. Ummi pun sempat tertidur juga di bawah. Di saat aku tidur, Apacut samsul dan Faris datang menjemput ummi dan Cut Dah. Rayyan pun minta tidur di rumah Cut Dah malam ini.

Hari Kedua (Rabu, 14 December 2016)
Di hari ini, kami memutuskan untuk membeli segala keperluan yang udah direncanakan untuk di beli. Terutamanya baju dan celana untuk Rayyan dan Zafir. ET di pasar aceh tetap menjadi pilihan kami karena semua yang kami mau beli ada di situ. Aku pun meminjam mobil Rina untuk keperluan ini. Kami pergi dulu ke rumah Cut Dah di Lamptimpeung untuk menjemput Ummi, Rayyan, Faris dan Cut Dah. Kami semua berangkat ke ET. Sepulang dari ET, kami mengantar Ummi, Rayyan, Faris dan Cut Dah ke rumah setelah sebelumnya diajakin b'fahmi makan di Ayam Pramugari.

Hari Ketiga (Kamis, 15 December 2016)
Pagi ini Bapak menjemput Uyun ke airport. Sesampai Uyun di rumah, kami ngobrol-ngobrol dan duduk-duduk. Pulang kali ini memang diniatkan untuk mengerahkan tenaga untuk persiapan acara pernikahan Rina. Hari ini masih belum terlalu sibuk. Aku tiba-tiba panik karena lipstik-liptik aku ketinggalan di KL. Aku sama sekali ga punya make sama sekali untuk acara besok. Akhirnya minta tolong Rina buat nemenin aku ke Kotti di Peunayong untuk beli peralatan make up buat aku. Sesampai di Kotti, banyak sekali pilihan kosmetik. Aku ga mau ribet, kami langsung aja di bagian LT Pro. Minta bantuan sales girl di situ but memilihkan bedak padat, foundation, lipstik, eyeliner, dan pembersih yang cocok. Malam harinya kami ke suzuya menemanin Bapak yang mencari celana dan sepatu untuk dipakai di hari sabtu ini.

Hari Keempat ( Jumat, 16 December 2016)
Hari ini sudah memulai agenda memasak. Mama akan masak kari daging sebagai menu tambahan jikalau besok menu dari katering tidak cukup. Aku pun ditugaskan mengambil daging pesanan di Balng Rakal diantar Bapak. Sorenya sudah mulai agak sibuk karena kami menyiapkan sendiri kue-kue untuk tamu pas acara di mesjid. Aku bantuin mama buat isi timpan dan juga mengaduk daging kari. Hari ini saudara-saudara udah mulai banyak yang berdatangan. Malamnya mulailah melipat kotak untuk isi kue, timpan pun sudah masak, kue brownies pesan sama tetangga pun sudah mau siap. Semuanya mulai sibuk mengisi kotak dengan timpan, brownies, tissue, dan air mineral.

Hari Kelima (Sabtu, 17 December 2016)
Tukang make up pengantin sudah datang dari sebelum subuh untuk mendandani Rina. Kami pun juga bersiap-siap. Acara nikahnya jam 8 tepat. Jam 7.30, si pengantin masih belum juga di antar. Semua panik, karena acara nikahan di Oman selalu on time. B'fahmi kemudian mengantar kami dan juga Rina langsung ke Mesjid Oman Lampriet. Setelah itu Bapak dan B'fahmi berulang alik mengantarkan saudara ke mesjid.Tepat jam 8.10 pengantin pria  datang. Bermulalah acara akad nikah adikku ini. Setelah acara selesai, Bapak dan B'fahmi berulang alik mengantarkan saudara kembali ke rumah. Pengantin masih ada agenda foto-foto dengan photographer. Setelah tamu sudah pada pulang, baru aku, zafir dan rayyan di jemput. Sesampainya di rumah, ibu tukang riasnya mencari-cari pengantin untuk di rias dengan pakaian adat aceh. Ternyata pengantin masih masih di mesjid. Aku dan b'fahmi pun kembali ke mesjid untuk menjemput Rina. Ternyata dia udah menunggu-nunggu jemputan dari kami. Bermulalah kesibukan kami menyambut para tamu-tamu. Capek sekaligus bahagia dengan kebahagian yang Rina kecapi hari ini. Senang juga karena berjumpa dengan saudara-saudara dan teman-teman yang sudah lama sekali tidak bejumpa. Acara pun berlanjut sampai ke siang. Di sore hari, tamu sudah mulai berkurang. Alhamdulillah, makan dari katering cukup bahkan lebih. Malam harinya, setelah siap mandi dan makan, aku akhirnya ketiduran dengan zafir di kamar. Aku pun tidak sempat ikut dalam acara buka kado dan pembubaran panitia lingkungan. Rayyan pun malam ini tidur di rumah. Faris pun minta tidur juga di rumah abusyik.

Hari Keenam (Minggu, 18 December 2016)
Pagi ini Bapak mengantar Uyun dan b'fahmi ke airport. Kami tetap di Banda Aceh melanjutkan liburan kami. Hari ini pun Bapak akan membawa saudara-saudara dari berandan untuk jalan-jalan di sekitar Banda Aceh. Menjelang siang, Rina dan bang Jufni mau menjemput Malikal dan Taya di rumah sepupu b'jufni. Rencanaya mereka mau membawa anak-anak ke pantai. Bang Jufni pun kemudian mengajak rayyan dan faris juga. Mereka sudah pasti senang sekali dan mau ikut. Aku pun akhirnya ikutnya juga. Hari ini sampai sore, kami menghabiskan waktu di pantai lampuuk. Pulang dari Lampuuk, kami singgah ke sebuah kedai kopi Helsingki. Tapi saat itu banyak sekali nyamuk dan pelayannya pun kurang bersahabat.

Hari ketujuh (Senin, 19 December 2016)
Faris sudah lama ingin naik Transkutaraja. Akhirnya kami memutuskan untuk jalan-jalan keliling banda Aceh dengan transkutaraja hari ini. Kami mulai dengan menaiki Halte transkutaraja di Jeulingke. Dari Jeulingke menuju Darussalam. Kemudian di darussalam kami bertukar bus ke arah pasar aceh. Kami berhenti di halte terakhir sebelum halte mesid raya karena rayyan mau pipis. Kamu pun ke kedai kopi sebelah halte untuk melepas lelah sedikit duduk-dudk di tepi sungai. Setelah itu naik bus ke halte mesjid raya. Kami singgah ke mesjid raya untuk salat zuhur. Setelah salat zuhur, kami mencari makan di sekitaran situ. Dapatlah sebuah restoran padang. Selesai makan, kami pun pulang kembali dengan transkutaraja menuju Jeulingke. Malamnya kami mengantar saudara dari bernadan ke terminal bus batoh. Kemudian kami singgah makan di sebuah kedai kopi Ring Road. Tempatnya nyaman dan tidak banyak nyamuk.

Hari Kedelepan (Selasa, 19 December 2016)
Sorenya kami menuju ke rumah Cut Dah. Kami akan bermalam di rumah Cut Dah hari ini.

Hari Kesembilan (Rabu, 19 December 2016) 
Hari ini kami menghabiskan waktu di rumah Cut Dah seharian. Malam harinya kembali ke rumah Misyik....

Hari Kesepuluh (Kamis, 20 December 2016)
Rencana hari ini adalah main air ke Water Boom Kuta Melaka. Pagi-pagi kami bangun untuk menyiapkan bekal. Masak bihun goreng, roti goreng telur, roti isi selai, panasin daging kari dan tauco. Semuanya ikut, bapak, mama, aku, rayyan, zafir, rina, bang jufni, malikal, taya, dan Cut Habsah. Seharian sampai sore....

Hari Kesebelas (Jumat, 21 December 2016)
Pagi ini b'fahmi sampai kembali di Banda Aceh. Rencananya kami akan pulang ke blang me sampai hari minggu. B'fahmi akan menjemput kami di rumah misyik. Akhirnya kami memulai perjalanan kami yang pertama (road trip). Kali ini masih ada Rudi yang bersedia jadi supir. Sampai di blang me sore hari. Sempatlah mampir ke resoran sate matang menikmati sate kesukaan.

Hari Keduabelas (Sabtu, 22 December 2016)
Seharian dihabiskan untuk berkunjung ke rumah saudara di Blang Me. Malam hari ini main sebentar di kota kutablang makan bakso Gatok.

Hari Ketigabelas (Minggu, 23 December 2016)
Pagi-pagi kami sudah siap untuk kembali ke Banda Aceh. Kali ini b'fahmi yang akan jadi supir. Kami berangkat pagi-pagi supaya sampai Seulawah sebelum gelap. Ini pengalaman pertama b'fahmi menyetir Seulawah. Kami kemudian singgah ke Meureudu pada saat jam makan siang. Akhirnya kesampaian juga niat untuk melihat Villa Mama. Syik mengajak kami makan terlebih dahulu. Selesai makan, kami langsung bergerak. Perjalanan kali ini alhamdulillah lancar selamat sampai di banda aceh sore hari menjelang maghrib. Malamnya aku sudah mulai mengisi koper dengan semua bawaan kami. Menyicil sedikit-sedikit.

Hari Keempatbelas (Senin, 24 December 2016)
Hari ini kami beristirahat aja di rumah. Agak siang baru lah kami ke Suzuya mencari baju dan celana untuk b'fahmi dan aku. Rayyan dan Malikal ikut dan mereka asyik main game di Suzuya. Pulang dari suzuya, aktifitas beres-beres koper pun dimulai lagi.

Hari Kelimabelas (Selasa, 24 December 2016)
Pagi-pagi sekali kami dihantar oleh semua orang yang di rumah ke airport. Sambil menunggu b'fahmi yang mengurus check in dan bagasi, kami pun duduk-duduk di salah satu kedai kopi di airport. Agak sedikit santai karena kami pergi agak cepat. Masih sempat mengobrol-ngobrol dengan semuanya. Anak-anak pun sempat main jalan-jalan dengan trolley barang. Kami pun sarapan dan minum dulu. Our holiday is over. Tibalah saatnya mengucapkan selamat tinggal untuk semua. Insyaallah, target tahun 2017 ini juga sama, bisa pulang lagi ke Banda Aceh bulan December. Amin........







 

Friday, June 7, 2013

Potty Chair atau Potty Seat

Aku harus menemani Rayyan buang air besar di kamar mandi di saat Rayyan sudah mulai berhasil toilet training. Kloset yang ada di rumah kami adalah untuk ukuran dewasa sehingga aku harus memegang tangan Rayyan selama proses di kamar mandi berlangsung. Tiap orang tua yang melalui proses ini pasti bisa merasakan apa yang aku lalui. Si anak malah mengajak ngobrol sedangkan kita sebenarnya kalau bisa pake masker dan kunci mulut. Jadi apa anda bisa membayangkan untuk melakukannya setiap hari minimal sekali? Ah, kalau sudah namanya demi anak, semua pun mau tak mau harus dilakukan.

Aku pernah melihat kloset khusus anak-anak di sekolah Rayyan. Tapi rasanya tindakan drastis sekali kalau harus membuat kloset khusus untuk Rayyan, di rumah sewa lah lagi. Saat itu aku masih berusaha bertahan dengan proses di atas. Sekitar akhir bulan Mei, menjelang 1 bulan Rayyan mulai bebas pamper, aku merasa kalau aku harus membeli semacam tempat kloset khusus anak-anak yang dipakai dengan cara hanya meletakkannya di atas kloset dewasa. Untuk ini, kita harus menggunakan toilet duduk. Saat ini aku masih belum tau apa lah istilah yang digunakan untuk produk ini. Menggunakan Google untuk mencari barang memang sangat berguna sekali. Ternyata ada berbagai macam bentuk untuk Potty Chair/Seat ini. Dari yang harganya fantastis sampailah yang murah meriah. Ada yang bentuknya seperti kloset pribadi si anak yang portable lengkap dengan berbagai aksesoris mainan yang menarik. Aku tetap pada pilihan awal yaitu mencari Potty chair/seat yang pemakaiannya dengan hanya meletakkannya diatas kloset duduk dewasa. Alasan utama tentu saja karena aku tidak mau harus repot-repot membersihkan dan membuang kotorannya ke kloset. Sampai akhirnya aku menemukan produk yang termurah dan aku rasa berkualitas juga lah. Produk buatan Malaysia dengan merek My Dear. Harganya pun terjangkau yaitu sekitar RM30 sahaja. Gambarnya seperti di bawah sebagaimana gambar yang aku ambil di websitenya My Dear. Aku membelikan yang warna biru untuk Rayyan.

Potty chair/seat jenis ini sangat layak dicoba. Cara pemakaiannya sangat mudah sekali dan tidak perlu repot-repot membersihkan kotorannya karena langsung jatuh di klosetnya kan.

Wednesday, June 5, 2013

Tercapai Juga Target Bunda Rayyan: diaper-free

Bulan Mei 2013 menjadi bulan yang sangat penting bagi perkembangan Rayyan. Rayyan pada akhirnya bisa bebas 99 persen dari pampers. Jadi aku bela-belain lah untuk menulisnya di blog. Tujuan awalnya adalah supaya menjadi catatan pribadi perkembangan anak. Ketika 5 atau 10 tahun lagi ada yang menanyakan umur Rayyan saat bebas dari pampers, aku bisa mengeceknya di blog ini karena aku pasti lupa. Jangan ditanya bagaimana tips dan caranya supaya anak bisa bebas pampers karena cara aku mungkin tidak terlalu berhasil. Tidak ada istilahnya sekali coba training kemudian Rayyan langsung bisa bebas dari pampers karena proses yang aku lakukan sangat panjang. Aku mencoba sampai 4 atau 5 kali tolet training sampai akhirnya berhasil. Percobaan pertama sampai yang ke empat, tidak berhasil karena Rayyan belum bisa mengatakan langsung ketika dia mau pipis atau buang air besar. Setelah pipis atau buang air besarnya keluar, baru dia lapor. Aku sempat frustasi dan bertanya-tanya kok Rayyan masih belum bisa membaca tanda-tanda akan pipis atau buang air besar di badannya. Kalau untuk aku jaga waktu pipisnya, misalnya setiap setengah jam atau satu jam sekali, selalu rutin dibawa ke kamar mandi, tidak ada masalah kebocoran alias pipis di celana. Tapi kalau akunya lalai saja sedikit, sudah pasti bocor. Oleh karena itu aku sangat bersyukur sekali pada akhirnya Rayyan bisa lulus toilet training.

Target aku adalah supaya Rayyan bisa bebas dari pampers sebelum ukuran pampersnya naik menjadi XXL. Alhamdulillah target bundanya tercapai. Ada cerita lucu mengenai target tersebut. Sebenarnya target tersebut hampir saja gagal karena aku berniat untuk membeli stok pampers XXL untuk Rayyan selama bulan Mei. Ceritanya sih aku sudah putus asa dan menyerah kalah dengan target awal. Berhubung pampers XLnya sudah mulai sempit, aku mau langsung membelikan ukuran XXL. Target itu jadi bisa tercapai karena si Ayah salah membeli ukuran pampers pesananku. Walaupun aku sudah bilang untuk membeli ukuran XXL, tapi si ayah malah tetap membeli ukuran XL. Awalnya niat mau tukar tapi berhubung stok pampers di rumah sudah tidak ada lagi dan aku juga malas harus kembali ke toko tempat beli, jadi aku putuskan untuk tetap pakai ukuran XL di bulan Mei. Pada bulan Mei ini, Rayyan sempat sakit demam lumayan parah sehingga tidak masuk sekolah selama seminggu lebih. Masa seminggu ini lah aku manfaatkan untuk kembali melakukan toilet training kepada Rayyan dan alhamdulillah berhasil. Awal-awalnya masih ada kebocoran baik di rumah atau di sekolah terutama untuk buang air besarnya. Tapi alhamdulillah, di awal bulan Juni ini, jumlah kebocoran pipis atau buang air besar baik di sekolah atau di rumah semakin menurun bahkan hampir tidak ada.

Pamper freenya masih 99 persen karena aku masih belum melakukan toilet training untuk tidur malam. Pada waktu malam, aku memang sengaja untuk tidak memakaikan pampers. Untuk menghindari bau pesing dikala ngompol, aku meletakan perlak anti bocor di kasur Rayyan. Baik aku dan Ayah Rayyan masih belum sanggup bangun di tengah malam untuk mengajak Rayyan pipis. Jadi ya untuk waktu tidur malam, kami biarkan saja Rayyan tanpa pampers dan merasakan sendiri ngompol. Yang paling penting, sebelum tidur kami mengajak Rayyan ke kamar mandi untuk pipis. Selama ini, kadang-kadang Rayyan ngompol dan kadang-kadang juga malah tidak ngompol. Jadi ya untuk waktu malam, kami melatih Rayyan secara pelan-pelan saja.

Tidak ada yang istimewa mengenai cara toilet training yang aku lakukan. Cara standard yang dilakukan para orang tua yang bisa kita dapatkan di internet kalau kita mengetik kalimat "toilet training". Pada awalnya, kita akan bawa si anak ke kamar mandi setiap setengah jam atau satu jam sekali atau bahkan 15  menit sekali, tergantung kuantiti pipisnya si anak. Kemudian ditambah lagi, mungkin setiap dua jam. Pokoknya si orang tua harus konsisten dengan jadwal yang ditetapkan. Kalau si anak sudah ada tanda-tanda mengejan mau buang air besar, segera dibawa ke kamar mandi dan didudukkan di kloset. Si orang tua tidak boleh lengah sama sekali. Siapkan 2-3 hari yang orang tua tidak melakukan kegiatan apapun selain toilet training. Kalau belum berhasil, dicoba lagi terus. Rasanya cara toilet training pada dasarnya seperti itu. Kemudian ditambah dengan kreativitas si orang tau dan tips-tips lainnya. Jadi, cara tersebut diatas aku lakukan sekitar 2-3 kali. Setiap sesi bisa sampai 1-2 minggu lamanya. Ternyata saat itu masih belum berhasil karena Rayyan belum dapat juga reflek untuk mengatakan mau pipis atau buang air besar kepadaku sebelum si pipis atau buang air besarnya keluar. Seperti yang aku bilang diatas, pas cara terakhir ini lah baru berhasil. Pertama kalinya di cara terakhir ini, Rayyan sudah bisa bilang ke aku kalau dia mau pipis dan pipisnya belum keluar.

Aku tulis pengalaman toilet training Rayyan supaya aku dan keluargaku kelak bisa kembali mengenangnya denagn membaca tulisan ini. Tanpa dicatat seperti ini, aku pasti akan lupa atau hanya ingat secara samar-samar....

Wednesday, September 26, 2012

Travelling dan Hotel Budget

Jujur saja aku katakan, setiap kali membaca berita atau cerita tentang pengalaman seseorang travelling ke pelosok dunia, aku menjadi sungguh-sungguh iri. Betapa menyenangkannya mengunjungi tempat-tempat baru yang tidak pernah aku datangi. Tempat tujuan tidak harus tempat-tempat terkenal buat wisata, bahkan tempat yang tidak terkenal malah mungkin lebih menarik.

Tentu saja kalau kita punya hobi travelling, yang paling utama yang harus kita siapkan ya tentu saja duitnya hehehehe. Kalau aku, sama sekali ga masalah untuk menginap di hotel budget atau istilahnya hotelnya backpacker. Malah menurut aku, sayang sekali duitnya kalau habis cuma untuk sewa hotel mahal yang cuma untuk tidur beberapa jam aja (kecuali kalau duit sendiri banyak, ya ga apa-apa kalau mau menikmati hotel mahal).

Pengalaman dua kali menginap di hotel budget sewaktu ke Melaka dan Pinang. Menurut aku, fasilitasnya not bad lah, yang penting ada AC dan water heater. Tapi untuk yang tidak terbiasa dengan suasana hotel budget, akan merasa sedikit khawatir dengan keselamatan hotel. Seperti waktu aku membawa kedua orang tuaku menginap di jotel budget di pinang. Orang tuaku ini sebelum pensiun, keduanya adalah karyawan sebuah Oil and Gas company di Aceh. Fasilitas mewah sudah sering merela rasakan. Jadi aku bisa merasakan kalau orang tuaku agak sedikit canggung sewaktu berada di hotel budget tersebut. Aku cuma bisa minta maaf deh. Berhubung travelling tersebut dibiayai oleh suami dan aku yang masih student ini, baru hotel begini yang mampu kami bayar. Orang tuaku sangat-sangat pengertian sekali. Mereka mengerti sekali dengan keadaan kami yang masih terbatas.

Mengenai keselamatan menginap di hotel budget, jujur saja sih, pada awalnya sih aku juga merasa ragu-ragu. Tapi setelah dua kali merasakan, aku pikir, sama saja lah dengan hotel bintang 2 atau 3 (udah pasti aku ga bakal membandingkan dengan hotel bintang 5 ya). Kedua hotel yang kami pernah tinggal, menggunakan sejenis punch card yang diberikan kepada setiap penghuni kamar. Jadi setiap kali mau masuk ke hotel, tinggal scan kartu yang dikasih. Tanpa kartu, kita ga bakalan bisa masuk, terutama pada malam hari ketika penjaga hotel sudah pulang. Pintu kamar hotel juga pintu yang standard dipakai di hotel-hotel lain. Yang paling penting, di kalangan backpacker, rasanya ada peraturan yang tidak tertulis yang mengatakan "mind your own business" alias jangan mengganggu ketenangan orang lain dan jangan bikin onar di dalam hotel.

So far, begitulah pengalaman aku menginap di 2 hotel budget di Malaysia. Tentu saja kita juga harus tetap berhati-hati dalam memilih hotel budget. Salah satu caranya adalah melihat review dari pengunjung hotel mengenai hotel tersebut di website seperti Agoda.com.my. Kita juga harus percaya dengan instict. Ketika kita ga ngerasa yakin dengan salah satu hotel, segera cari alternative hotel lain. Berdasarkan pengalaman mencari-cari hotel budget, ada beberapa hotel yang terlalu bebas atau terlalu western sekali seperti mengatakan kalau mereka ada pub, alkohol, bar, parties, etc. yang berbau bule having fun lah. Jika sudah seperti itu, untuk kita yang ga ngerasa nyaman dengan aktifitas seperti itu, sebaiknya menjauh saja dari hotel-hotel seperti itu.

Kalau kita travelling dengan beberapa kawan, pastikan kalau kita sudah berdiskusi dengan kawan seperjalanan mengenai hotel seperti apa yang kalian mau. Aku pernah punya pengalaman travelling ke pulau pinang bertiga dengan adikku dan kawan aku sewaktu kuliah. Aku dan adikku tidak punya masalah untuk menginap di hotel budget. Di saat budget kami menipis, kami memutuskan untuk mencari hotel yang lebih murah. Si kawan mempercayakan aku dan adikku untuk mencari hotel dan kami memilih hotel budget. Si kawanku ini saat mengetahui bahwa kami akan booking hotel budget, langsung ketakutan dan khawatir sekali. Dia menyuruh kami membatalkan booking tersebut dan bahkan bersedia membayar lebih asalkan jangan di hotel budget. Kata kawannya dia yang pernah ke pinang, kawasan hotel tersebut rawan dan bahaya. Aku dan adikku pada awalnya agak kesal juga karena menurut kami, tempat tersebut ok-ok saja. Tapi akhirnya kami mencoba mengerti kalau kawanku ini mungkin tipe orang yang tidak biasa dan tidak berani menginap di hotel ala backpacker ini. Mungkin ada hikmahnya dan mungkin kawanku ini punya feeling yang tidak enak mengenai hotel tersebut. Seperti yang aku sebutkan di atas, kita juga perlu mempertimbangkan instinct kita dalam memilih hotel.

Last but not least, kalau memutuskan untuk menginap di hotel budget, jangan mengharapkan fasilitas yang macem-macem ya. Jangan juga mengeluh ini dan itu karena akan sangat menyebalkan sekali. Kalau pengen yang wuah, ya siap-siap untuk mengeluarkan duit lebih untuk hotel yang lebih bagus. Kalau tidak ada duit, lebih baik diam saja dan cukup nikmati saja apa yang ada.

Sekian dan terimakasih.....

Tuesday, May 29, 2012

Semalam di Kampung Acheh


Baru-baru ini, saya, suami dan kawan suami beserta istrinya mengunjungi Kedah, tepatnya Kampung Acheh di kota Yan. Kedah adalah salah satu Negara bagian Malaysia yang berbatasan langsung dengan Siam (Thailand). Perjalanan dari Kuala Lumpur menuju Kedah memakan waktu lebih kurang 6 jam dengan mengendarai mobil. Tujuan utama kami menempuh jarak sedemikian jauh, lebih kurang 444 km,  adalah untuk menghadiri Musyawarah Agung Ikatan Masyarakat Aceh Malaysia (IMAM) yang ke 11. IMAM sendiri adalah satu-satunya persatuan masyarakat Aceh di Malaysia yang didirikan pada tahun 2000. Presiden IMAM adalah Tan Sri Dato’ Sanusi Junid yang merupakan mantan presiden dari International Islamic University Malaysia (IIUM) dan juga mantan Menteri Besar (Gubernur) Kedah. 


Musyawarah Agung IMAM sendiri diadakan di Kampung Aceh Management Centre (KAMC) yang merupakan sebuah village homestay yang dikelola oleh pengurus IMAM. Berbincang-bincang dengan salah satu pengurus KAMC, Cikgu Abdul Rahman, serasa berada di kampung halaman saya di Meureudu. Beliau masih bisa berbahasa Aceh dengan sangat lancar walaupun dilahirkan dan dibesarkan di Kedah. Saya bahkan bertemu dengan cucu beliau yang berumur 4 tahun, beribu Aceh dan berayah Bugis, bahkan bisa berbahasa Aceh dengan pengucapan sangat sempurna. Saya benar-benar kagum dengan penduduk keturunan Aceh di Kedah.

Mari kita kembali ke Musyawarah Agung ke 11 IMAM yang serentak dilakukan dengan acara peresmian Dewan Teungku Muhammad Dahan. Musyawarah dibuka secara resmi oleh Tan Sri Sanusi Junid. Dalam pidato pembukaannya, beliau bercerita mengenai sejarah pemberian nama Dewan tempat diadakannya musyawarah, yaitu Dewan Teungku Muhammad Dahan. Teungku Muhammad Dahan adalah salah satu ulama Aceh yang disegani di Yan, beliau lebih dikenal dengan gelaran Teungku Chik di Yan. Tan Sri Sanusi Junid mempunyai keterikatan yang sangat kuat dengan Teungku Muhammad Dahan karena beliau mempunyai andil besar dalam mempertemukan Tan Sri Sanusi dengan istrinya. Tan Sri juga bercerita tentang orang-orang keturunan Aceh yang mempunyai peran besar dalam memajukan Malaysia seperti Tan Sri Hanafiah Hussain, Tan Sri Elyas Omar dan Tan Sri Kamaruzzaman Shariff. Selain itu, Tan Sri juga bercerita mengenai sejarah orang-orang Aceh yang berada di Kampung Aceh di Yan, Kedah. Pidato Tan Sri diakhiri dengan mengajak semua lapisan masyarakat Aceh di Kampung Aceh, Yan khususnya dan masyarakat Aceh di Malaysia umumnya untuk dapat memberikan kontribusi dalam pembangunan Aceh menuju Aceh yang lebih baik ke depan.  

Dalam Musyawarah tersebut juga, ada salah satu peserta yang mengusulkan untuk menyebarkan Narit Geutanyo keluar Kedah sehingga bisa dibaca oleh seluruh masyarakat Aceh di Malaysia. Narit Geutanyo adalah buletin yang diterbitkan oleh IMAM setiap dua bulan sekali. Ada juga peserta musyawarah yang lain, Dato’ Dr. Abdullah Hasbi Hassan pakar pertambangan Malaysia keturunan Aceh, yang menyarankan agar Tan Sri Sanusi menulis buku mengenai sejarah Aceh di Malaysia agar generasi muda Aceh di Malaysia mengetahui sejarah indatu mereka atau lebih baik lagi jika Tan Sri Sanusi dapat menulis kisah hidup beliau dalam sebuah otobiografi. Musyawarah ini kemudian diakhiri dengan makan siang bersama dengan menu utamanya  Kuah Plik U dan Timphan buatan ibu-ibu kampung Aceh.


Selama lebih kurang sehari semalam berada di Kampung Aceh, Yan, Kedah, saya mempelajari banyak hal. Salah satunya, saya menyadari betapa pentingnya untuk kita menghargai jasa indatu kita dengan mengetahui, mempelajari dan melestarikan budaya kita. Walaupun generasi Aceh di Kampung Aceh lahir dan membesar di sana, bahkan mereka berbicara bahasa Melayu dengan logat Kedah, tapi mereka tetap tidak lupa bahwa mereka adalah orang Kedah keturunan Aceh dengan melestarikan bahasa Aceh dan kebudayaan Aceh di kalangan mereka. Tidak bisa kita pungkiri bahwa masyarakat Aceh di Kedah sudah berasimilasi dengan kebudayaan setempat. Akan tetapi, mereka tetap bangga mengatakan bahwa mereka adalah orang Aceh dan masih tetap melestarikan budaya Aceh salah satunya melalui penggunaan bahasa Aceh dan juga makanan khas Aceh. Rasa kebanggaan sebagai orang Aceh telah mendorong orang-orang Aceh di Malaysia untuk meraih prestasi gemilang yang terukir dengan tinta emas dalam berbagai bidang sehingga nama Aceh tetap harum di Tanah Melayu.