Pages

Monday, November 13, 2017

Mencari Makanan Khas Aceh di Gombak

13 belas tahun yang lalu, aku dan orang tuaku tiba di Kuala Lumpur. Untukku, ini adalah pertama kalinya aku sampai di kota besar ini. Tapi untuk orang tuaku, mereka sudah pernah ke sini pada saat mereka jalan-jalan bersama rombongan kawan sekerja mereka. Orang tua mengantarku ke kota besar ini untuk menemaniku mendaftar ulang di Universitas Islam Antarabangsa (UIAM) untuk program S1. Waktu berjalan begitu cepat sehingga di tahun 2017 ini, aku masih tetap berada di sini. Bedanya, saat ini aku sudah 3 tahun bekerja di sebuah perusahaan IT lokal setelah menyelesaikan program master.

Selama beberapa tahun pertama di sini, tepatnya di daerah Gombak, lokasi kampus tempatku kuliah S1 selama 4 tahun, sangat susah sekali mendapatkan makanan khas Aceh. Kami harus melangkah ke kawasan Chow Kit, tepatnya di Restaurant Acheh Meutuwah untuk sekedar melepas rindu dengan mie Aceh, asam keueung, timun kerok, kari daging, pepes ikan/udang, dan sebagainya. Kemudian kami menemukan sebuah kedai makan di Greenwood yang menjual lauk pauk khas Aceh. Akan tetapi pilihan lauknya agak terbatas.

Cara lain untuk melepas kerinduan akan makanan Acheh adalah dengan tanpa sungkan dan malu mengunjungi rumah senior kami yang sangat baik hati dan ramah, Kak Farah dan Bang Shabri. Tetapi sejak mereka kembali ke Aceh, kami pun kehilangan tempat untuk berburu makanan Aceh gratisan hahaha. Terimakasih yang sebanyak-banyaknya untuk Kak Farah dan Bang Shabri yang selalu menyambut kami, mahasiswa-mahasiswa yang kelaparan ini, dengan tangan terbuka. Sangat banyak sekali jasa mereka terhadap mahasiswa UIAM terutama yang dari Aceh.

Keadaan di atas berubah sekali pada saat ini, di tahun 2017. Aku tidak ingat kapan tepatnya warung makan ataupun warung mie Aceh mulai berjamuran di kawasan batu 8 Gombak ini. Rasanya sudah sejak aku mulai menyambung kuliah masterku di tahun 2011. Diawali dengan sebuah kedai mie aceh di sore hari yang merangkap kedai nasi campur aceh di siang harinya. Sampailah pada saat ini, sudah sedemikian mudahnya kami mendapatkan lauk khas Aceh di Gombak ini. Di simpang batu 8 ini bahkan sudah ada yang berjualan mie aceh, nasi goreng aceh, martabak telur, sate matang, bahkan kopi aceh seperti sanger dan acehkano.

Untuk pilihan lauk pauk, memang masih terbatas pilihannya. Tapi lauk utama seperti Asam Keueung atau pun kari daging/kambing, mudah sekali ditemukan. Untuk mie aceh dan nasi goreng, cita rasanya tidak kalah dengan yang dijual di Aceh. Untuk sate matang, menurutku, rasanya sudah sangat mirip sekali dengan yang dijual di Aceh, terutama kuah kacangnya. Martabak telurnya juga sama enaknya. Untuk kopinya, juga lumayan enak. Harganya juga lumayan terjangkau untuk secangkir kopi yang disajikan menggunakan mesin pembuat kopi profesional ala kafe-kafe mahal. Aku jadi senang saja bisa menikmati kopi mesin dengan harga terjangkau. Sebelumnya, aku malas beli kopi di kafe-kafe seperti Starbuck dikarenakan harganya yang menurutku terlalu mahal untuk segelas kopi. Kini aku bisa menikmatinya di simpang batu 8 Gombak.

Fenomena ini bisa jadi karena semakin banyaknya pekerja-pekerja dari Aceh yang bekerja di Gombak dan sekitarnya. Yang mana mereka pastinya membutuhkan tempat untuk makan. Lelaki Aceh bisa dibilang selera makannya susah sekali untuk berubah. Kemanapun mereka merantau, pasti akan segera mencari makanan khas tempat asalnya. Ini lah yang mungkin membuka peluang untuk perempaun-perempuan Aceh yang ada di sini untuk membuka warung nasi aceh. Peluang yang sama tentunya di lirik oleh penjual mie Aceh. Seperti yang kita ketahui, di Aceh sendiri, warung-warung serupa tidak pernah sepi dari pengunjung, terutamanya laki-laki. Asalkan ada mie aceh dan kopi yang enak, pasti ada saja yang nonkrong di sana untuk menghabiskan waktu.

Monday, November 6, 2017

Museum Orang Asli Gombak Batu 12

Selama ini aku hanya melihat signboard Museum Orang Asli di simpang tiga ke arah UIA. Tapi ntah kenapa, tidak ada niat untuk mencari tahu di mana letaknya museum ini. Padahal aku sudah berada di UIA sejak tahun 2004. Pada bulan January tahun 2009, aku dan suami pun akhirnya menetap di sebuah rumah sewa di batu 10 gombak. Setiap saat kami keluar dari rumah, pasti akan melalu simpang 3 tersebut. Setiap itu juga kami melihat signboard Museum Orang Asli. Ada juga terbersit untuk mencari dimana lokasinya. Akan tetapi sampailah di bulan Agustus tahun 2017, kami belum juga sampai ke sana.

Di suatu hari di bulan July 2017, suami menunjukkan foto yang di sharing oleh kawannya di Facebook. Foto tersebut menunjukkan kawan tersebut beserta anak dan istrinya sedang mengunjungi Museum Orang Asli. Saat itu lah kami kembali berpikir, ya ampun, kami aja yang tinggal di batu 10 gombak malah belum sampai ke situ. Padahal menurut kawan tersebut, museum itu terletak di batu 12 gombak. Kami pun akhirnya membulatkan niat untuk mengunjungi museum tersebut.

Akhirnya pada hari Sabtu, 19 Agustus 2017, sampai juga kami di Museum Orang Asli Gombak Batu 12. Hanya sekitar 6 menit dari rumah dengan mengendarai mobil. Pada saat kami sampai, ada sepasang lelaki dan perempuan yang menuju tempat parkir, sudah mau pulang. Selain itu, kami tidak melihat orang lain di halaman depan museum. Sebelum kami masuk,kami pun singgah dulu di kedai sebelah museum yang menjual cenderamata khas orang asli. Yang menjaga kedai adalah seorang perempuan muda yang sangat ramah. Nampaknya dia sudah mengetahui sedikit banyak sejarah orang asli jadi ketika aku menanyakan sesuatu yang berkaitan dengan barang-barang khas orang asli, dia bisa dengan cepat dan tanggap menjawabnya. Rayyan dan Zafir nampak tertarik dengan seruling terbuat dari bambu. Ayahnya pun akhirnya membeli seruling itu, masing-masing satu untuk Rayyan dan Zafir.

Dari kedai cenderamata, kami menuju sebuah bangunan kecil di seberang jalan. Di kedai ini dipamerkan berbagai alat-alat  khas buatan orang asli. Ternyata itu tempat dibuatnya berbagai alat-alt tersebut. Yang menjaga adalah seorang gadis remaja yang ternyata ayahnya lah si pembuat alat itu. Kami hanya melihat-lihat saja.

Kemudian kami pun menuju ke bangunan utama yang merupakan museum orang asli. Ketika memasuki ruangan, seorang lelaki yang berbadan tambun menyambut kami dengan senyuman ramah. Dia mempersilahkan kami masuk dan kemudian kembali sibuk dengan handphonenya. Kami pun mulai masuk melihat-lihat barang-barang yang dipamerkan. Suasana di dalam museum lumayan dingin dengan AC sehingga membuat kami nyaman berada di dalamnya. Cukup menarik juga alat-alat yang dipamerkan terutamanya alat-alat memasaknya. Kami sedikit tertawa karena ada beberapa alat-alat masak dan peralatan dapur yang sebenarnya masih dipakai di kampung kami. Jadi alat tersebut tidaklah terlalu unik untuk kami. Misalnya adalah centong nasi atau untuk mengambil kuah yang terbuat dari batok buah kelapa. Aku ingat sekali kalau mamaku dulu punya centong seperti itu.

Kemudian kami melihat replika alat penumbuk padi atau tepung. Aku jadi teringat adik iparku ada pernah mengirim foto Faris dan Rayyan yang sedang serius mengamati salah seorang Makcik di kampung Blang Me yang sedang menumbuk beras untuk dijadikan tepung dengan menggunakan alat tersebut. Ada sebutan dalam bahasa Aceh untuk alat tersebut. Akan tetapi aku lupa dan perlu menanyakan kembali ke Bang Fahmi. Alat tersebut berada tak jauh dari rumah Ummi Bang Fahmi.

Selain memamerkan alat-alat yang dipakai oleh orang asli, ada juga di dinding-dindingnya yang tertulis sejarah singkat orang asli di Malaysia. Kami tidak terlalu memusatkan perhatian pada tulisan sejarahnya. Kami berpikir kalau untuk membacanya, kami tunggu di kesempatan berikutnya kami main ke sini. Jadi ada alasan lagi untuk mengunjungi Museum ini.

Setelah habis mengelilingi lantai 1, kami pun menuju lantai 2. Tidak banyak hal yang bisa dilihat di lantai 2. Aku pun tidak terlalu memperhatikan isinya. Tapi dinding-dindingnya penuh dengan gambar-gambar lelaki seperti seorang pejabat. Aku rasa isinya itu berupa penghargaan terhadapat orang-orang yang  berjasa dalam mendirikan museum orang asli. Di bagiaan lain, dindingnya juga penuh dengan gambar orang-orang asli berserta beberapa kegiatan yang dilakukan bersama orang asli. Setelah itu kami pun langsung turun kembali ke lantai 1.

Sesampai di bawah, kami menghabiskan sedikit waktu untuk membaca jenis-jenis suku orang asli di Malaysia. Tak lama setelah itu, kami pun beranjak keluar dari gedung dengan niat di dalam hati untuk kembali lagi mengunjungi museum ini.

Di sebelah kiri bangunan utama museum, ada sebuah tempat yang mirip Balee tempat orang duduk dan berkumpul. Kami pun mengambil foto di tangga kecil di sebelahnya. Sebelum pulang, kami kembali singgah di kedai cenderamata tersebut untuk membeli minuman. Kami hanya berada di sana sekita 1 jam setengah saja.


Monday, October 30, 2017

Outing with My Two and Half Year Old Adorable Son

Di posting sebelumnya, aku ada bercerita dengan perjalananku ke AEON Wangsamaju bersama Zafir demi sebuah Garlic Press. Kali ini aku ingin bercerita tentang pengalaman mengajak Zafir menemaniku berbelanja. Zafir, diumurnya yang dua setengah tahun, adalah anak yang sangat aktif dan sangat cerewet. Dia sudah pandai berbicara sebelum umurnya genap 2 tahun. Saat ini, dia sudah bisa berkomentar tentang segala hal. Dia biasa diajak berbicara tentang apa saja. Dari segi aktif, dia sangat berbeda sekali dengan abangnya. Rayyan saat seumur itu, anak yang sangat diam saat berada di tempat umum. Apalagi Rayyan baru bisa berbicara itu di umur 4 tahun. Sedangkan Zafir, sangat aktif dan lasak di tempat umum. Dia bahkan sudah berani tidur atau baring di lantai mall kalau keinginannya tidak dituruti. Ntah dimana dia belajar atau melihat hal seperti itu. Persis deh seperti gambar-gambar atau video anak bule tantrum di tempat umum dengan berbaring di lantai.

Pengalaman hanya berdua dengan Zafir di AEON merupakan sebuah hal baru untuk aku. Zafir itu aman kalau digendong. Tapi aku juga tidak sanggup untuk terus-terusan menggendong dia. Dia pun juga tidak mau digendong terus-terusan. Ketika sampai di AEON, kami singgah di kedai pertama yaitu kedai sepatu BATA. Zafir masih behave. Yang lucunya, saat aku sedang melihat-lihat sandal, dia tidak henti-hentinya berbicara seperti sales boy yang sedang promosi sandal. Dia menunjukan sandal satu persatu sambil menanyakan ke aku apakah aku suka dan mau beli sandal ini. Ketika aku mencoba sebuah sandal, dia pun ikut berkomentar, "Bunda suka kasut itu? Kenapa Bunda tidak suka kasut yang ini?" Ketika aku meminta ukuran sandal ke seorang sales girl, sales girl itu pun kembali dengan mengatakan kalau ukuran yang aku mau tidak ada. Zafir pun dengan sibuknya bertanya, "Kenapa Bunda? Kok tidak jadi beli sandal yang itu?" Aku pun menjawab kalau ukuran sandal untukku tidak ada. Dia pun bertanya lagi dengan nada tidak mengerti, "Apa? Sandal bunda tak ada? kenapa?" Aku hanya tertawa saja mendengarnya sambil menjawab, "Iya". Aku pun melihat-lihat sandal yang lain. Ketika melihat sebuah sandal yang aku suka, aku iseng menanyakan ke Zafir, "sandal ini cantik ga, adik?" Eh, dia dengan santainya menjawab, "Cantik, Bunda". Aku hanya tertawa kecil melihat kecerewetan dia. Sebuah  pengalaman lucu deh belanja sandal dengan Zafir.

Setelah selesai mencari sandal, kedai selanjutnya yang kami jumpai adalah Guardian, sebuah drugstore yang menjual segala alat mandi, kecantikan, obat, multivitamin, toiletries, etc. Aku mau membeli nail polish removal. Lorong-lorong kedainya agak kecil jadinya aku khawatir melepas Zafir. Jadi Zafir pun aku gendong. Aku langsung menuju bagian Nail polish. Ada dua jenis, yang wana pink dan biru. Aku pun mengambil yang warna Pink. Zafir pun berkomentar, "Kenapa bunda ambil yang pink, kenapa ga blue?" Aku pun mengambil sebuah nail polish warna transparan. Kemudian langsung ke kasir. Belanjaan sandal aku taruh di lantai dan zafir aku turunkan. Saat sedang bayar, Zafir malah membongkar kotak sandalku. Aduh! tapi aku biarkan karena aku sedang dalam proses membayar. Setelah bayar, baru aku mundur sedikit untuk membereskan kotak sandalku yang sudah dibongkar.

Dari Guardian, aku langsung segera ke AEON bagian pernak- pernik dapur. Kali ini aku gendong Zafir dan tidak mau mebiarkan dia jalan sendiri. Di bagian dapar kan, banyak alat-alat pecah belah seperti gelas dan piring. Seram rasanya membayangkan Zafir lari-lari di situ. Setelah mendapat barang yg aku cari, aku pun langsung ke kasir dan membayar. dan aku pun langsung keluar dari situ sebelum Zafir minta turun dari gendongan.

Penjalanan berikutnya adalah untuk makan. Awalnya aku mau makan di Food Courtnya aja deh. Tapi pada saat melihat-liat setiap food stall. Zafir makin mengganas. Dia tidak mau aku gendong. Di tempat ramai seperti itu, dengan anak yang sedang meronta-ronta ingin turun, aku pun memutuskan untuk segera berlalu keluar sebelum stress duluan. Tidak bisa nih makan di sini dengan Zafir. Akhirnya aku memutuskan makan di Kenny Rogers. Tempatnya luas dan sedang tidak ramai orang. Di situ Zafir bisa aku lepas tanpa takut dia pergi jauh-jauh. Sengaja aku pilih meja yang besar supaya Zafir bisa bebas pindah-pindah duduk. Mejanya itu perpaduan dari tepat duduk sofa dan kursi. Aku duduk di kursi dan sofa letter U itu khusus untuk Zafir. Demi untuk kenyaman lebih, kita pun harus membayar lebih. Kalau di Food Court tadi, bisa huru-hara dengan Zafir yang tidak mau duduk diam. Makan di Kenny Rogers pun berjalan aman tenteram. Zafir pun senang karena dia punya banyak space untuk dia sendiri. Aku pun tidak perlu tiap detik melihat gerak-gerik Zafir. Zafirnya bukan duduk diam, dia tetap lasak tapi tetap di sekitaran tempat duduk kami. Aku pun bisa aman makan dan menyuapi Zafir. Sebuah pengalaman pertama yang menarik untukku dan perlu aku lakukan lagi ke depannya. Mungkin lain kali, aku keluar berdua saja dengan abangnya Zafir. Anggap saja sebagai bonding time dengan anak.

Thursday, October 26, 2017

Solo Traveling Sambil Mengantar Anak #2

Di posting sebelumnya, aku bercerita tentang pengalaman mengantar anak pulang ke Banda Aceh. Kali ini aku mau bercerita tentang pengalaman menjemput anak di Banda Aceh dan menghabiskan dua malam di Banda Aceh.

Setelah hampir dua minggu Rayyan di Banda Aceh, saatnya aku kembali ke sana untuk menjemput Rayyan. Bang Fahmi dan Zafir mengantarku ke KL sentral. Kemudian aku menaiki bus ke KLIA2. Sesampainya di KLIA2, aku segera masuk ke ruang boarding karena tidak ada bagasi. Sesampai di sana, aku hanya duduk-duduknya saja sambil main handphone menunggu dibukanya ruang boarding untuk kami. Kembali lagi menjalani sensasi solo traveling di mana aku bisa sesuka hati aku, duduk santai memandang di luar jendela melihat pesawat dan juga petugas airport yang sibuk dengan kerja masing-masing di lapangan luar bangunan. Aku juga bisa memperhatikan penumpang lain yang berusaha mengisi waktu sambil menunggu waktu boarding tiba. Satu hal saja yang aku belum berani lakukan yaitu menyapa orang yang tidak aku kenal sambil mengajak ngobrol atau basa-basi.

Begitu waktu boarding sampai, aku pun masuk menunggu di dalam ruangan. Ketika petugas airport mengisyaratkan waktu untuk masuk ke dalam pesawat telah tiba, aku pun masih duduk santai saja. Karena sendirian, ya tidak masalah kalau masuk pesawat di urutan terakhir. Tak lama aku pun berdiri dan antri untuk masuk ke pesawat. Aku dapat tempat duduk di area belakang di dekat jendela. Dalam waktu 60 - 80 menit, pesawat pun mendarat di Sultan Iskandar Muda International Airport.

Seperti biasa, Bapakku yang menjemput disertai dengan Rayyan dan Faris. Kami langsung menuju rumah untuk beristirahat. Aku tidak terlalu ingat apa yang aku lakukan sampai waktu berbuka puasa. Rasanya hanya beristirahat di rumah. Menjelang sore, kami pergi ke pasar aceh untuk satu keperluan yang aku tidak ingat. Saat menuju pulang, aku membeli timun aceh yang hanya ada orang jual pada saat puasa saja. Tidak tanggung-tanggung, aku beli banyak karena aku memang sangat suka.

Menjelang berbuka puasa, Rina dan suaminya pun sampai di Banda Aceh dari Lhokseumawe. Kami berbuka beramai-ramai sambil duduk lesehan di samping ruang makan. Faris juga ikut berbuka puasa di rumah. Sungguh momen-momen yang sangat berharga untuk dikenang. Semenjak kami semua kuliah, bekerja dan merantau jauh dari rumah, momen berbuka puasa beramai-ramai seperti ini menjadi sesuatu yang sangat langka. Aku bertanya kepada Habsah, sepupuku, yang memang tinggal di rumah bersama orang tuaku, "kalau kami ga ada, gimana, Habsah, suasana berbuka puasa?" Habsah pun menjawab, "Ya sepi lah kak Rini, cuma kami bertiga aja". Di satu sisi, jadi sedih juga memikirkan orang tuaku. Dalam hati ini, aku jadi semakin semangat untuk berniat pulang ke Banda Aceh setiap bulan puasa untuk dua atau tiga malam saja jikalau kami tidak berkesempatan untuk berlebaran di kampung.

Selesai berbuka puasa, aku pun memutuskan untuk beristirahat saja di rumah. Rina pun juga sama. Kami pun ngobrol aja di tingkat dua rumah. Rayyan pun juga tidak mau ikut tarawih. Lama juga kami ngobrol ngalur ngidur ke berbagai topik dengan Rina. Kalau aku tidak salah, kami baru tidur pada saat menjelang sahur. Tapi kami tetap terbangun juga pada saat sahur.

Di hari kedua, aku pun menghabiskan waktu pagi hanya di rumah saja. Aku sudah memberitahu Mama kalau hari ini kami akan berbuka puasa di luar bersama teman-teman SMA dulu. Saat siang, aku pun ikut Rina dan Habsah ke Pasar Aceh untuk menukar baju koko Bang Jufni, suami Rina, yang kekecilan. Kalau dikutkan hati, rasanya malas sekali keluar panas-panas begini saat bulan puasa. Tapi karena sayang saja waktu dihabiskan di rumah, aku pun ikut mereka. Sesampai di pasar aceh, aku pun menyempatkan untuk membeli beberapa barang seperti anak jilbab, jilbab dan juga lipstik. Itu pun di tempat yang sama koko tersebut dibeli. Setelah selesai urusan, kami pun langsung pulang ke rumah untuk bersiap-siap pergi ke tempat acara berbuka puasa dibuat.

Menjelang berbuka puasa, kami pun sampai di lokasi tempat berbuka puasa bersama teman-teman cewek dari SMA, tepatnya MAS Ruhul Islam Anak Bangsa. Sore itu kami berbuka puasa di sebuah restaurant yang bernama The Pantry yang berada di Banda Aceh. Cukup menyenangkan juga pertemuan kami saat itu. Saling menanyakan kabar masing-masing serta menghitung jumlah anak untuk yang sudah menikah dan punya anak hahaha. Tak lama, azan maghrib pun berkumandang, suasana riuh tiba-tiba menjadi sedikit senyap karena semua sibuk mencicipi hidangan berbuka puasa yang sudah dipesan. Makanan utamanya kali ini agak sedikit mengecewakan karena sudah dingin sekali saat kami sampai. Nasinya bahkan sudah agak sedikit keras. Minumannya yang bikin puas karena diberikan hingga empat macam minuman untuk setiap orang. Gorengannya juga lumayan enak menurut aku sih yang sudah lama tidak mencicipi gorengan ala Indonesia. Tapi ya aku tidak terlalu mengeluh juga sih. Dalam suasana berbuka puasa yang tempat makannya penuh sekali dengan orang-orang, perkara yang sedikit mustahil untuk menghadirkan makanan yang fresh dan hangat seperti baru siap dimasak untuk semua orang yang berbuka disitu. Toh, seperti kata kembaranku, kenikmatan utama bukan terletak pada makanannya tapi pada suasana meriah berbuka puasa di tempat keramaian. Kalau mau makanan super enak dan fresh, masakan homemade di rumah sendiri pastilah menjadi pilihan utama.

Acara berbuka malam itu kami akhir dengan berfoto bareng di dalam restauran yang dekorasinya keren serta, mengambil istilah yang lagi booming di Indonesia, kekinian.....


Wednesday, August 30, 2017

Idul Adha 2017 di Perantauan #1

Cuti Idul Adha tahun 2017 jatuh pada hari jumat tanggal 1 September. Hari sebelumnya, tepatnya hari kamis tanggal 31 Agustus juga merupakan tanggal merah yaitu Hari Kemerdekaan Negara Malaysia. Apakah artinya dua tanggal ini? Ini bermakna long weekend yang sangat bermakna bagi para pekerja nine to six seperti kami ini. Teman-teman sekantor yang orang lokal sudah pasti akan mengambil cuti untuk kembali ke kampung halaman masing-masing. Walaupun lebaran Idul Adha di Kuala Lumpur tidak semeriah Idul Fitri, tapi momen lebaran seperti ini tetap dimanfaatkan oleh para perantau untuk menjenguk orang tua masing-masing.

Bagaimana dengan kami si perantau warga asing? Seperti biasa, aku dan suamiku memang tidak pulang ke Banda Aceh. Seperti sebelum-sebelumnya, kami merayakan Idul Adha di Kampung Sungai Salak, di rumah sewa kami tercinta. Kadang-kadang, orang tuaku akan datang ke sini. Akan tetapi, karena orang tuaku sudah merayakan Idul Fitri tahun ini di sini, maka kali ini mereka memilih untuk berlebaran di Aceh saja.

Jujur saja, tahun ini aku tidak terlalu bersemangat menyambut Idul Adha. Biasanya aku sudah mulai memikirkan menu yang akan aku masak dan mulai menyicil bumbu-bumbu yang akan dipakai untuk memasak di minggu sebelumnya. Tapi terpikirkan juga lah mau masak apa. Keinginan saat ini adalah masakan apa saja selain rendang, toco, sayur lodeh dan lontong hahahaha. Ingin berbeda saja untuk tahun ini. Salah satu piliham menu adalah memasak kari daging lembu atau pun kambing. Tapi aku sama sekali belum pernah masak kari daging sendiri tanpa bantuan Mama atau Ummi. Jadi sedikit riskan saja kalau ternyata hasilnya itu super tidak enak. Mau makan apa kami di pagi raya? Adik bungsuku yang juga bekerja di Kuala Lumpur memang akan datang ke rumah. Tapi ya kemampuan masaknya juga belum bisa diharapkan untuk bisa menggantikan aku untuk masak kari kambing.

Resepnya sih sudah Mamaku kirimkan. Tapi aku masih belum percaya diri untuk memasaknya. Jadi H-2 sebelum hari raya, aku masih belum memutuskan mau masak apa. Kalau kari daging jadi, aku mau memadukannya dengan memasak nasi arab yang aku juga belum terlalu ahli hahahaha. Tapi kalau beneran jadi, aku mau beli beras basmathi suapaya benar-benar jadi nasi arab. Untuk sayurnya, aku malah terpikir untuk membuat salad arab yang pakai cuka itu.

Long weekend ada 4 hari. Trus mau ngapain lagi ya? Pengennya pasti jalan-jalan yang agak jauh. Tapi berdasarkan pengalaman sebelumnya, hindari liburan di saat peak season seperti ini. Sudah bisa dipastikan akan terjebak kemacetan di jalan-jalan tol di sini. Lebih baik keliling saja daerah Kuala Lumpur dan Selangor.

Masih ada 2 hari lagi waktu untuk memikirkan menu Hari Raya Idul Adha tahun ini....

Monday, August 28, 2017

Balada Sebuah Garlic Press

Suatu hari aku menonton video masak-masaknya Mbak Nikmatul Rosyidah di YouTube. Saat itu aku melihat Mbak Nikmatul memakai sebuah gajet dapur bernama garlic press. Dengan alat itu, memudahkan proses memasak yang memerlukan bawang putih yang udah diulek. Aku langsung kepengen punya juga. Sebagai seseorang yang maunya beli barang bagus dengan harga murah, maka aku langsung memutuskan untuk mencari alat tersebut di kedai pecah belah murah meriah yang banyak dijumpai di Kuala Lumpur ini. Aku sering menyebut kedai tersebut sebagai kedai 3 ringgit.

Di kawasan gombak ini saja, ada dua tempat serupa. Tempatnya hanya berupa kedai super besar seperti gudang yang beratap seng dan berlantaikan semen bahkan ada yang berlantaikan tanah tidak rata yang ditutupi karpet plastik. Segala pernah pernik dapur atau rumah ada dijual dengan harga yang sangat murah sekali.

Di akhir pekan, aku pun pergi kedai pecah belah yang berada di dekat pasaraya Ong Tai Kim dekat Plaza Idaman. Setelah berkeliling, aku menemukan juga sebuah alat yang mirip Garlic Press yang kucari. Hanya tinggal dua saja dan tempatnya pun bercampur dengan alat-alat yang lain. Penampakan awal alat tersebut sama sekali tidak meyakinkan dari segi kualitas. Terlihat seperti lelehan alumunium kasar. Aku pun ragu-ragu untuk membelinya. Tapi karena sudah terlalu pengen punya dan harganya hanya RM6.9, maka langsung aku sambar.

Sesampai di rumah, aku pun tak sabar untuk segera mengupas seulas bawang putih. Saat aku mecoba sekuat tenaga menekan alat tersebut untuk mendapatkan hasil ulekan bawang putih, tiba-tiba alat itu patah. Aku terkejut, ya ampun, masa patah sih. Benar-benar gajet sampah nih. Singkat cerita, aku pun membawa kembali alat yang sudah patah itu ke kedai. Tapi si kasir bilang kalau alatnya rusak di rumah, ya alat tersebut ga bisa ditukar kecuali udah patah di kedai. Aku terbengong sebentar melihat alasan tersebut. Jadi begitu mungkin ya para pembuat alat-alat murahan seperti itu mendapatkan untung. Mereka tau aja kalau alat tersebut hanya sampah saja dan sama sekali ga bisa dipakai. Sengaja mereka jual murah saja biar orang beli. Kalau rusak pun, karena murah, yang beli juga ga ngerasa rugi-rugi amat. Kalau mau tukar pun, mereka bisa bikin alasan seperti yang si kasir bilang ke aku. Ini jadi pelajaran deh buat aku untuk tidak membeli alat-alat dapur yang terlalu murahan.

Keinginan untuk memiliki sebuah Garlic Press masih belum padam. Sifat pelit (baca: hemat) masih melanda jadi aku pun melangkah ke kedai serupa yang ada di Greenwood. Masih berharap mendapatkan dengan harga murah. Setelah mencari, dapatlah sebuah alat serupa seharga RM12.9. Alatnya terlihat lebih berkualitas dan harga juga tidak mahal. Aku pun segera membelinya. Sama seperti kisah diatas, sesampai di rumah, aku tidak sabar untuk segera mencobanya. Saat aku coba, alatnya memang tidak patah, tapi bawang putihnya tidak menjadi halus seperti yang aku bayangkan. Hanya sebagian kecil dari bawang putih tersebut yang halus sedangkan sisanya masih ada di dalam alat tersebut. Seberapa kerasnya pun aku tekan alat tersebut, si bawang putih tetap terperangkan di dalamnya utuh. Untuk kedua kalinya aku kecewa dengan Garlic Press yang aku beli.

Tak lama setelah itu, aku langsung berpikir untuk mencari Garlic Press di toko ke tiga yang sebelumnya memang sudah ada di dalam pikiran aku. Tepatnya di Pasaraya AEON Wangsamaju. Pasaraya AEON ini kalau tidak salah pasaraya franchise dari Jepang. Pasarayanya ada di dalam sebuah mall kecil bernama AEON juga. Di situ juga banyak alat-alat dapur keren dalam mall. Sebelumnya aku sudah sering juga sih beli-beli barang dapur yang keren dan berkualitas di situ kalau penyakit pelit lagi ga kumat. Harga alat-alat dapur disitu pastinya memang lebih mahal daripada di kedai 3 ringgit itu. Tapi selama ini sih kualitas yang aku dapatkan memang tidak mengecewakan sama sekali. Aku harus sekali lagi mencari waktu untuk kesana.

Beberapa hari kemudian, saat aku di kantor dan bersiap-siap untuk pulang, suami mengirim pesan whatsapp mengabarkan kalau dia dan Rayyan akan pergi menonton bola di Selayang bersama kawannya dan pergi sebelum maghrib. Aku pun langsung berpikir ini saatnya aku ke AEON karena tidak perlu memasak untuk makan malam. Aku pun langsung pulang dengan hati berbinar-binar. Sebelumnya ke AEON, aku menjemput Zafir dahulu di IIUM EDUCARE. Dari sana, kami pun langsung meluncur ke AEON Wangsamaju yang tidak seberapa jauh. Akan tetapi, karena aku memilih untuk ke AEON melalui jalan kampung, kami pun terjebat macet di kawasan persekolahan Gombak Setia. Banyak mobil-mobil berparkiran sambil menjemput anak-anak pulang sekolah. Tiba di kawasan LRT Taman Melati, kami kembali terjebat macet mobil-mobil yang parkir di sekitar LRT yang juga menjemput teman/istri/anak/suami di LRT. Tapi hatiku masih berbinar-binar, jadi aku nikmati saja kemacetan sore hari ini.

Akhirnya sampai juga di AEON. Dari parkiran, aku dan Zafir menuju pasaraya AEON di tingkat 2. Sebelunya singgah dulu di Toko Bata untuk mencari sandal. Sudah lama juga aku mau membeli sandal baru untuk menggantikan sandal merahku yang sudah tua. Selepas dari Bata, aku juga singgah ke Guardian untuk mencari nail polish removal yang memang aku sedang cari karena punya yang lama ntah ada di mana dan aku sedang males untuk membongkar isi rumah. Setelah itu baru sampai di AEON. Aku langsung menuju ke arah alat-alat dapur kecil dan aku pun menjumpai Garlic Press yang kucari. Harganya hanya RM 19.9 saja ternyata. Dari luaran, terlihat alatnya itu sangat meyakinkan. Materialnya itu mengkilat seperti stainless steel. Tapi aku masih sedikit pesimis karena harganya juga tidak terlalu beda jauh dengan alat nomor dua yang kubeli. Aku segera ke kasir untuk membayar.

Sebelum pulang, aku dan Zafir pun singgah ke Kenny Roger's untuk makan malam. Sambil makan, jujur saja kalau aku tidak sabar ingin mencoba alat tersebut. Dari dalam hati, kalau alat ini ternyata berfungsi sangat baik, harganya itu sama dengan total dua alat yang kubeli sebelumnya. Artinya, sifat pelitku ini sudah membuat aku rugi. Ingin hemat atapi malah akhirnya rugi. Setelah selesai makan, aku dan Zafir pun langsung pulang.

Sesampai di rumah, untuk ketiga kalinya, aku tak sabar untuk mencoba alat ini. Setelah mengupas seulas bawang putih yang kecil, aku pun segera memasukkan bawang putih ke alat tersebut dan aku tekan. Ternyata hasilnya sangat memuaskan sekali. Hasilnya persis ketika aku melihat video Mbak Nikmatul. Bawang putihnya menjadi halus. Aku segera mengupas bawang putih yang lebih besar dan mencobanya. Hasilnya tetap sama dan memuaskan. Alat itu bisa menghaluskan bawang putih seperti yang aku harapkan. Duh, senangnya luar biasa. Perjalanan panjang demi sebuah Garlic Press pun akhirnya berakhir. Mudah-mudahan alat itu bisa bertahan lama. Di sisi lain, aku menertawakan diriku sendiri dengan dua alat sebelumnya yang bikin kecewa.


Tuesday, August 22, 2017

Solo Traveling Sambil Mengantar Anak #1

Jadwal persekolahan di Malaysia untuk satu tahun biasanya sudah ditetapkan dari tahun sebelumnya. Informasinya pun bisa kita dapatkan di internet. Selama 2 tahun ini, aku perhatikan kalau jadwalnya itu tetap dan belum pernah aku mengalamin jadwal yang ditukar. Terutamanya jadwal libur sekolah atau istilah di sini itu CUTI SEKOLAH. Berpedoman dari jadwal persekolahan itu lah, tahun 2016, aku mulai hunting tiket murah dengan tujuan untuk bisa mengantar Rayyan ke Banda Aceh selama cuti sekolah.

Alasan utamanya tentu saja karena kami berdua bekerja dan Ummi sudah tidak tinggal bersama kami lagi di sini. Jadi salah satu alternatif adalah mengirim Rayyan ke Banda Aceh untuk tinggal dengan Misyik dan Abusyiknya atau pun tinggal bersama adik ipar yang kebetulan punya anak laki-laki juga yang dekat dengan Rayyan.

Aku memilih hunting tiket untuk cuti sekolah yang kedua karena cutinya sampai 2 minggu dan kebetulan di bulan puasa. Tepatnya di bulan May-Juni 2017. Rencana awalnya adalah aku seorang diri mengantar Rayyan ke Banda Aceh. Besoknya aku kembali ke Kuala Lumpur. Setelah dua minggu, aku kembali pulang ke Banda Aceh menjemput Rayyan. Dua malam di Banda Aceh sebelum kembali ke Kuala Lumpur.

Setelah beberapa minggu mulai hunting, dapatlah tiket PP murah untuk aku dan Rayyan tanggal 27 May - 10 Juni 2017 sebesar RM466 termasuk bagasi 25 kg. Termasuk murah sekali lho itu. Tanpa bagasi, jumlahnya hanya RM310 tiket PP untuk dua orang dari Kuala Lumpur ke Banda Aceh. Tiket pulangnya untuk kami berdua sudah beres. Tinggal mencari tiket untuk aku kembali ke Kuala Lumpur dan tiket ke Banda Aceh untuk menjemput Rayyan. Tiket yang kedua ini akhirnya aku beli untuk tanggal 28 May - 8 Juni 2017 sebesar RM 210 ataupun Rp.630 ribu. Itu juga udah termasuk murah juga sih.

Pada hari pertama kami pulang, seperti biasa, Bapakku yang menjemput di Airport. Setelah menjemput, kami langsung pulang ke rumah orang tuaku. Berhubung bulan puasa ya kami pun di rumah saja seharian. Kemudian adik ipar dan Ummi datang ke rumah. Ngobrol seperti biasa. Saat pulang, Rayyan minta ikut pulang ke rumah adik ipar. Aku mengizinkan dengan syarat kalau buka puasa dan tidur di rumah Abusyiek. Rayyan setuju asalkan Abang sepupunya, Faris, juga ikut. Faris pun setuju aja. Setelah adik ipar, Ummi, Faris dan Rayyan pergi, aku pun naik ke tingkat dua rumah untuk beristirahat. Menjelang buka puasa baru aku terbangun. Aku liat Rayyan sudah ada di sampingku tertidur. Aku biarkan Rayyan tertidur sebentar lagi. Aku pun turun ke dapur untuk membantu Mamaku. Malam ini kami berbuka puasa dengan menu khas buatan Mama yaitu bubur kanji. Malamnya aku dan Rayyan tidak ikut tarawih. Rayyan menyambung tidurnya lagi dan aku pun juga berisitrahat. Malah Faris yang semangat ke mesjid dengan Abusyiek.

Esok paginya selepas sahur, aku pun segera bersiap-siap. Abis salat Subuh, kami langsung bergerak ke airport. Sesampai di airport pun aku langsung menyalami bapak, Rayyan dan Faris. Aku pun segera saja masuk ke ruang check in. Rayyan terlihat sangat senang sekali bisa mengahabiskan liburannya di Banda Aceh. Ia melambaikan tangannya kepadaku sambil tersenyum lebar. Di dalam hatiku, ada terbersit juga perasaan yang mengatakan bahwa anakku sudah besar dimana dia sudah bisa kami tinggalkan di kampung.

Keliatannya sih memang pulang kali ini malah bikin capek aja kan ya. Hari sabtu kami pulang ke Banda Aceh, besok paginya aku udah harus kembali ke Kuala Lumpur. Tapi setelah menjalaninya, capek sih iya, tapi seru aja sih pulang hanya berdua dengan Rayyan. Pada saat aku seorang diri kembali ke Kuala Lumpur, malah lebih seru aja nih. Aku baru sadar kalau sudah lama sekali sejak terakhir kalinya aku naik pesawat sendirian. Aku coba mengingat-ingat, kapan ya terakhir kalinya aku travelling sendirian gitu. Aku rasa saat aku baru aja menikah dan harus kembali ke Kuala Lumpur sendiri untuk meneruskan kuliahku sedangkan suami bekerja di Banda Aceh. Sejak punya anak, rasa-rasanya tidak pernah travelling sendirian. Yang pernah adalah aku pulang berdua dengan Zafir yang saat itu masih berumur 4 atau 5 bulan untuk mengurus SIM.

Aku sampai berpikir untuk menjadikan momen-momen seperti itu kegiatan tahunan aku. Anggap saja sebagai pengganti impian buat menjelajah dunia. Tidak bisa menjelajah dunia, ya paling tidak menjelajah di perjalanan dari Kuala Lumpur ke Banda Aceh. Seru aja berada di airport seorang diri. Tidak ada yang perlu diurus. Aku bisa sebebasnya memperhatikan orang-orang di sekitar. Aku bisa jalan santai dan lambat sesukaku tanpa harus tergesa-gesa. Setahun sekali ya tidak apa-apalah jadi solo traveling yang tidak seberapa solo hahaha. Kalau sudah cukup nyali dan uang, baru deh beneran solo traveling ke ke tempat yang agak jauh. Ya tidak terlalu muluk, yang di sekitaran Malaysia atau Indonesia sajalah. Paling jauh ya Thailand atau Singapore.

Thursday, July 27, 2017

Kuta Melaka Water Park

Pada saat liburan December 2016, kami sempat berkunjung ke semua taman permainan air yang bernama Kuta Melaka. Lokasinya pun di Kuta Melaka, Samahani. Cukup jauh juga jika kita bergerak dari Jeulingke, Banda Aceh. Begitu sampai di lokasi taman permainan, kami disambut oleh tukang parkir yang meminta jasa parkir sebesar 10 ribu rupiah. Tiket per orang ada 25 ribu rupiah pada hari kerja dan 35 ribu rupiah pada hari pekan. Menurutku, harga tiketnya sangat terjangkau karena biasanya keluarga yang pergi kesini membawa rombongan yang cukup banyak juga. Saat itu kami ada 10 orang yaitu Bapak, Mama, Cut Hab, aku&Zafir, Rayyan, Faris, Rina, Bang Jufni, Malikal dan Taya. Begitu selesai urusan pembelian tiket, kami mulai masuk dan mencari pondok yang nyaman untuk kami beristirahat dan makan. Setelah keliling agak lama, akhirnya kami dapat tempat yang cukup strategis karena lokasinya dekat sekali dengan 1 kolam besar.

Di dalam tempat permainan ini sangat luas sekali. Terdapat berbagai macam jenis kolam yang bisa di coba. Kami hanya mencoba 3 tempat yaitu 1 kolam besar di hadapan pondok kami, kolam sungai, dan 1 kolam yang ada pelosotan dan timba air super besar. Kolam besarnya cukup aman karena tidak terlalu dalam. Kolam sungainya agak berbahaya lama cukup dalam sehingga anak-anak harus benar-benar dijaga. Kolam yang ada pelosotanlah yang sangat berbahaya. Aku sampai jantungan melihat anak-anak bercampur orang dewasa yang bermain pelosotan yang sangat tinggi. Yang membuat aku jantungan adalah besarnya kemungkinan anak kita tertimpa orang yang di belakangnya. Apalagi kalau orang di belakangnya mempunyai ukuran badan yang jauh lebih besar. Benar-benar menyeramkan. Kami memutuskan untuk segera meninggalkan kolam tersebut sebelum menyesal. Kami pun kembali ke kolam pertama di dekat pondok.

Yang membuat teman permainan di banda aceh mengasyikkan adalah kita boleh membawa makanan sendiri. Mulai dari makanan ringan sampai makanan berat. Tidak dilarang sama sekali. Hari itu kami memasak bihun goreng, membawa nasi putih, daging kari, tauco, dan kerupuk. Tak lupa makanan ringannya berupa roti goreng telur dan roti isi selai. Air minumnya tinggal diangkut aja galon air mineral. Jangan lupa untuk membawa makan yang untuk bisa 3 sampai 4 kali makan ya. Main air itu menguras tenaga dan bikin anak-anak pada lapar. Mereka bisa makan berkali-kali sepanjang hari kami berada di sana. Bukan cuma anak-anaknya aja sih, kami yang dewasa juga begitu.

Kelebihan lain tempat permainan air Kuta Melaka adalah ruang ganti dan mandinya sangat luas dan bersih. Designnya pun terkesan modern. Airnya lancar dan bersih. Ada tempat mandi dan tempat bertukar pakaian. Tersedia juga jasa sewa locker untuk menyimpan barang-barang yang dianggap berharga.

Kualitas air sudah cukup lumayan menurut pandangan mata saya. Seperti halnya kolam renang lainnya, airnya tetap berbau kaporit yang tujuannya untuk menghilangkan kuman. Tidak banyak sampah di dalam air kecuali daun-daunan yang berguguran dari banyaknya pohon di sekeliling kolam. Jumlah kolam pun banyak dengan atraksinya masing-masing. Ada satu kolam yang agak sedikit berbahaya menurut saya. Satu kolam yang ada pelosotan besar dan tinggi. Kalau kita yang sudah turun duluan tidak segera bergerak menjauh dari pelosotan, bisa-bisa orang yang selanjutnya turun dari pelosotan menimpa kita dengan keras dan mungkin berakibat fatal. Melihat kondisi tersebut, kami pun segera menjuah dari kolam tersebut.

Ongkos sewa ban pun cukup terjangau di kantong kami. Bannya besar, kuat dan kokoh untuk orang dewasa. Tapi ya kita harus menjaga ban yang kita sewa elok-elok karena ada saja orang iseng yang sesuka hati mengambil ban-ban sewaan orang lain yang tidak diawasi.

Pengalaman kedua ke sini  cukup menggembirakan. Semua orang senang terutamanya anak-anak.

Wednesday, January 4, 2017

Liburan ke Banda Aceh

Setelah hampir 2 tahun setengah bekerja di perusahaan ini, akhirnya kami sekeluarga berhasil pulang ke kampung halaman tercinta di Banda Aceh untuk menikmati liburan. Liburan kali ini bersamaan juga dengan acara pernikahan adikku. Liburan selama 2 minggu (13 Dec - 27 Dec 2016) ini menjadi pengalaman yang tidak terlupakan untuk aku. Puas sekali menikmati liburan kali ini.

Hari Pertama (Selasa, 13 Dec 2016)
Hari senin malamnya kami sudah berada di rumah kakak sepupu di Pantai Dalam. Tujuan utama kami berada di sini supaya mudah untuk cari UBER pas jam 2 pagi mau berangkat ke airport. Lokasi rumah kami di pinggiran Gombak yang pastinya pilihan UBER sangat terbatas sekali. Keputusan yang tepat sekali. Sekitar jam 3 pagi, aku mulai membuka aplikasi UBER di HP aku untuk untuk mencari UBER XL dan langsung saja ada UBER driver di sekitaran rumah kakak sepupu. Aku langsung book dan dalam 10 menit, langsung nyampe. Berangkatlah kami ke airport. Tidak sampai 1 jam, kami sudah sampai di airport KLIA2. Sesampai di airport, kami pun menunggu sambil di bukanya waktu untuk check in barang yaitu sekitar jam 5 pagi. Setelah beres urusan check in, kami langsung ke kedai mamak di atas tempak masuk untuk boarding. Sekedar mengisi perut sedikit. Menjelang Subuh, kami memutuskan untuk langsung aja masuk dalam salat di ruang tunggu aja. Selesai salat subuh, kami menunggu di GATE keberangkatan yang ternyata belum buka. Akhirnya duduk-duduk aja sampe ketiduran. Tiba saatnya untuk masuk ke dalam pesawat. Kali ini suami membelikan HOT Seat untuk kami semua demi kenyamanan perjalanan dengan 2 anak beserta ibu mertua. Akhirnya dalam waktu kurang dari 1 jam setengah, kami sampai di Banda Aceh. Setelah selesai urusan imigrasi dan bagasi, kami menunggu di luar. Rencananya sih Bapak, Mama dan Rina akan menjemput kami. Di luar sudah ada Cut Dah, adik iparku yang kesini dengan motor. Setelah menunggu, akhirnya sampai lah juga Bapak, Mama, dan Rina. Kami langsung deh meluncur ke rumah. Sampai di rumah, aku langsung minta makan, lapar.... Setelah makan, kami pun duduk-duduk dan ngobrol-ngobrol. Tiba-tiba aku ngantuk berat dan terus naik ke atas buat tidur. Aku benar-benar tertidur pulas sampai Asar. Selama aku tidur, rupa-rupanya Rayyan dan Zafir di bawa Rina naik mobil. Cut Dah juga ikut. Mereka mau ke Blang Rakal buat pesan daging. Pulang dari situ, singgah ke Ule Lheue sekedar liat laut. B'fahmi sudah tertidur di kursi bawah. Ummi pun sempat tertidur juga di bawah. Di saat aku tidur, Apacut samsul dan Faris datang menjemput ummi dan Cut Dah. Rayyan pun minta tidur di rumah Cut Dah malam ini.

Hari Kedua (Rabu, 14 December 2016)
Di hari ini, kami memutuskan untuk membeli segala keperluan yang udah direncanakan untuk di beli. Terutamanya baju dan celana untuk Rayyan dan Zafir. ET di pasar aceh tetap menjadi pilihan kami karena semua yang kami mau beli ada di situ. Aku pun meminjam mobil Rina untuk keperluan ini. Kami pergi dulu ke rumah Cut Dah di Lamptimpeung untuk menjemput Ummi, Rayyan, Faris dan Cut Dah. Kami semua berangkat ke ET. Sepulang dari ET, kami mengantar Ummi, Rayyan, Faris dan Cut Dah ke rumah setelah sebelumnya diajakin b'fahmi makan di Ayam Pramugari.

Hari Ketiga (Kamis, 15 December 2016)
Pagi ini Bapak menjemput Uyun ke airport. Sesampai Uyun di rumah, kami ngobrol-ngobrol dan duduk-duduk. Pulang kali ini memang diniatkan untuk mengerahkan tenaga untuk persiapan acara pernikahan Rina. Hari ini masih belum terlalu sibuk. Aku tiba-tiba panik karena lipstik-liptik aku ketinggalan di KL. Aku sama sekali ga punya make sama sekali untuk acara besok. Akhirnya minta tolong Rina buat nemenin aku ke Kotti di Peunayong untuk beli peralatan make up buat aku. Sesampai di Kotti, banyak sekali pilihan kosmetik. Aku ga mau ribet, kami langsung aja di bagian LT Pro. Minta bantuan sales girl di situ but memilihkan bedak padat, foundation, lipstik, eyeliner, dan pembersih yang cocok. Malam harinya kami ke suzuya menemanin Bapak yang mencari celana dan sepatu untuk dipakai di hari sabtu ini.

Hari Keempat ( Jumat, 16 December 2016)
Hari ini sudah memulai agenda memasak. Mama akan masak kari daging sebagai menu tambahan jikalau besok menu dari katering tidak cukup. Aku pun ditugaskan mengambil daging pesanan di Balng Rakal diantar Bapak. Sorenya sudah mulai agak sibuk karena kami menyiapkan sendiri kue-kue untuk tamu pas acara di mesjid. Aku bantuin mama buat isi timpan dan juga mengaduk daging kari. Hari ini saudara-saudara udah mulai banyak yang berdatangan. Malamnya mulailah melipat kotak untuk isi kue, timpan pun sudah masak, kue brownies pesan sama tetangga pun sudah mau siap. Semuanya mulai sibuk mengisi kotak dengan timpan, brownies, tissue, dan air mineral.

Hari Kelima (Sabtu, 17 December 2016)
Tukang make up pengantin sudah datang dari sebelum subuh untuk mendandani Rina. Kami pun juga bersiap-siap. Acara nikahnya jam 8 tepat. Jam 7.30, si pengantin masih belum juga di antar. Semua panik, karena acara nikahan di Oman selalu on time. B'fahmi kemudian mengantar kami dan juga Rina langsung ke Mesjid Oman Lampriet. Setelah itu Bapak dan B'fahmi berulang alik mengantarkan saudara ke mesjid.Tepat jam 8.10 pengantin pria  datang. Bermulalah acara akad nikah adikku ini. Setelah acara selesai, Bapak dan B'fahmi berulang alik mengantarkan saudara kembali ke rumah. Pengantin masih ada agenda foto-foto dengan photographer. Setelah tamu sudah pada pulang, baru aku, zafir dan rayyan di jemput. Sesampainya di rumah, ibu tukang riasnya mencari-cari pengantin untuk di rias dengan pakaian adat aceh. Ternyata pengantin masih masih di mesjid. Aku dan b'fahmi pun kembali ke mesjid untuk menjemput Rina. Ternyata dia udah menunggu-nunggu jemputan dari kami. Bermulalah kesibukan kami menyambut para tamu-tamu. Capek sekaligus bahagia dengan kebahagian yang Rina kecapi hari ini. Senang juga karena berjumpa dengan saudara-saudara dan teman-teman yang sudah lama sekali tidak bejumpa. Acara pun berlanjut sampai ke siang. Di sore hari, tamu sudah mulai berkurang. Alhamdulillah, makan dari katering cukup bahkan lebih. Malam harinya, setelah siap mandi dan makan, aku akhirnya ketiduran dengan zafir di kamar. Aku pun tidak sempat ikut dalam acara buka kado dan pembubaran panitia lingkungan. Rayyan pun malam ini tidur di rumah. Faris pun minta tidur juga di rumah abusyik.

Hari Keenam (Minggu, 18 December 2016)
Pagi ini Bapak mengantar Uyun dan b'fahmi ke airport. Kami tetap di Banda Aceh melanjutkan liburan kami. Hari ini pun Bapak akan membawa saudara-saudara dari berandan untuk jalan-jalan di sekitar Banda Aceh. Menjelang siang, Rina dan bang Jufni mau menjemput Malikal dan Taya di rumah sepupu b'jufni. Rencanaya mereka mau membawa anak-anak ke pantai. Bang Jufni pun kemudian mengajak rayyan dan faris juga. Mereka sudah pasti senang sekali dan mau ikut. Aku pun akhirnya ikutnya juga. Hari ini sampai sore, kami menghabiskan waktu di pantai lampuuk. Pulang dari Lampuuk, kami singgah ke sebuah kedai kopi Helsingki. Tapi saat itu banyak sekali nyamuk dan pelayannya pun kurang bersahabat.

Hari ketujuh (Senin, 19 December 2016)
Faris sudah lama ingin naik Transkutaraja. Akhirnya kami memutuskan untuk jalan-jalan keliling banda Aceh dengan transkutaraja hari ini. Kami mulai dengan menaiki Halte transkutaraja di Jeulingke. Dari Jeulingke menuju Darussalam. Kemudian di darussalam kami bertukar bus ke arah pasar aceh. Kami berhenti di halte terakhir sebelum halte mesid raya karena rayyan mau pipis. Kamu pun ke kedai kopi sebelah halte untuk melepas lelah sedikit duduk-dudk di tepi sungai. Setelah itu naik bus ke halte mesjid raya. Kami singgah ke mesjid raya untuk salat zuhur. Setelah salat zuhur, kami mencari makan di sekitaran situ. Dapatlah sebuah restoran padang. Selesai makan, kami pun pulang kembali dengan transkutaraja menuju Jeulingke. Malamnya kami mengantar saudara dari bernadan ke terminal bus batoh. Kemudian kami singgah makan di sebuah kedai kopi Ring Road. Tempatnya nyaman dan tidak banyak nyamuk.

Hari Kedelepan (Selasa, 19 December 2016)
Sorenya kami menuju ke rumah Cut Dah. Kami akan bermalam di rumah Cut Dah hari ini.

Hari Kesembilan (Rabu, 19 December 2016) 
Hari ini kami menghabiskan waktu di rumah Cut Dah seharian. Malam harinya kembali ke rumah Misyik....

Hari Kesepuluh (Kamis, 20 December 2016)
Rencana hari ini adalah main air ke Water Boom Kuta Melaka. Pagi-pagi kami bangun untuk menyiapkan bekal. Masak bihun goreng, roti goreng telur, roti isi selai, panasin daging kari dan tauco. Semuanya ikut, bapak, mama, aku, rayyan, zafir, rina, bang jufni, malikal, taya, dan Cut Habsah. Seharian sampai sore....

Hari Kesebelas (Jumat, 21 December 2016)
Pagi ini b'fahmi sampai kembali di Banda Aceh. Rencananya kami akan pulang ke blang me sampai hari minggu. B'fahmi akan menjemput kami di rumah misyik. Akhirnya kami memulai perjalanan kami yang pertama (road trip). Kali ini masih ada Rudi yang bersedia jadi supir. Sampai di blang me sore hari. Sempatlah mampir ke resoran sate matang menikmati sate kesukaan.

Hari Keduabelas (Sabtu, 22 December 2016)
Seharian dihabiskan untuk berkunjung ke rumah saudara di Blang Me. Malam hari ini main sebentar di kota kutablang makan bakso Gatok.

Hari Ketigabelas (Minggu, 23 December 2016)
Pagi-pagi kami sudah siap untuk kembali ke Banda Aceh. Kali ini b'fahmi yang akan jadi supir. Kami berangkat pagi-pagi supaya sampai Seulawah sebelum gelap. Ini pengalaman pertama b'fahmi menyetir Seulawah. Kami kemudian singgah ke Meureudu pada saat jam makan siang. Akhirnya kesampaian juga niat untuk melihat Villa Mama. Syik mengajak kami makan terlebih dahulu. Selesai makan, kami langsung bergerak. Perjalanan kali ini alhamdulillah lancar selamat sampai di banda aceh sore hari menjelang maghrib. Malamnya aku sudah mulai mengisi koper dengan semua bawaan kami. Menyicil sedikit-sedikit.

Hari Keempatbelas (Senin, 24 December 2016)
Hari ini kami beristirahat aja di rumah. Agak siang baru lah kami ke Suzuya mencari baju dan celana untuk b'fahmi dan aku. Rayyan dan Malikal ikut dan mereka asyik main game di Suzuya. Pulang dari suzuya, aktifitas beres-beres koper pun dimulai lagi.

Hari Kelimabelas (Selasa, 24 December 2016)
Pagi-pagi sekali kami dihantar oleh semua orang yang di rumah ke airport. Sambil menunggu b'fahmi yang mengurus check in dan bagasi, kami pun duduk-duduk di salah satu kedai kopi di airport. Agak sedikit santai karena kami pergi agak cepat. Masih sempat mengobrol-ngobrol dengan semuanya. Anak-anak pun sempat main jalan-jalan dengan trolley barang. Kami pun sarapan dan minum dulu. Our holiday is over. Tibalah saatnya mengucapkan selamat tinggal untuk semua. Insyaallah, target tahun 2017 ini juga sama, bisa pulang lagi ke Banda Aceh bulan December. Amin........







 

Friday, June 7, 2013

Potty Chair atau Potty Seat

Aku harus menemani Rayyan buang air besar di kamar mandi di saat Rayyan sudah mulai berhasil toilet training. Kloset yang ada di rumah kami adalah untuk ukuran dewasa sehingga aku harus memegang tangan Rayyan selama proses di kamar mandi berlangsung. Tiap orang tua yang melalui proses ini pasti bisa merasakan apa yang aku lalui. Si anak malah mengajak ngobrol sedangkan kita sebenarnya kalau bisa pake masker dan kunci mulut. Jadi apa anda bisa membayangkan untuk melakukannya setiap hari minimal sekali? Ah, kalau sudah namanya demi anak, semua pun mau tak mau harus dilakukan.

Aku pernah melihat kloset khusus anak-anak di sekolah Rayyan. Tapi rasanya tindakan drastis sekali kalau harus membuat kloset khusus untuk Rayyan, di rumah sewa lah lagi. Saat itu aku masih berusaha bertahan dengan proses di atas. Sekitar akhir bulan Mei, menjelang 1 bulan Rayyan mulai bebas pamper, aku merasa kalau aku harus membeli semacam tempat kloset khusus anak-anak yang dipakai dengan cara hanya meletakkannya di atas kloset dewasa. Untuk ini, kita harus menggunakan toilet duduk. Saat ini aku masih belum tau apa lah istilah yang digunakan untuk produk ini. Menggunakan Google untuk mencari barang memang sangat berguna sekali. Ternyata ada berbagai macam bentuk untuk Potty Chair/Seat ini. Dari yang harganya fantastis sampailah yang murah meriah. Ada yang bentuknya seperti kloset pribadi si anak yang portable lengkap dengan berbagai aksesoris mainan yang menarik. Aku tetap pada pilihan awal yaitu mencari Potty chair/seat yang pemakaiannya dengan hanya meletakkannya diatas kloset duduk dewasa. Alasan utama tentu saja karena aku tidak mau harus repot-repot membersihkan dan membuang kotorannya ke kloset. Sampai akhirnya aku menemukan produk yang termurah dan aku rasa berkualitas juga lah. Produk buatan Malaysia dengan merek My Dear. Harganya pun terjangkau yaitu sekitar RM30 sahaja. Gambarnya seperti di bawah sebagaimana gambar yang aku ambil di websitenya My Dear. Aku membelikan yang warna biru untuk Rayyan.

Potty chair/seat jenis ini sangat layak dicoba. Cara pemakaiannya sangat mudah sekali dan tidak perlu repot-repot membersihkan kotorannya karena langsung jatuh di klosetnya kan.

Wednesday, June 5, 2013

Tercapai Juga Target Bunda Rayyan: diaper-free

Bulan Mei 2013 menjadi bulan yang sangat penting bagi perkembangan Rayyan. Rayyan pada akhirnya bisa bebas 99 persen dari pampers. Jadi aku bela-belain lah untuk menulisnya di blog. Tujuan awalnya adalah supaya menjadi catatan pribadi perkembangan anak. Ketika 5 atau 10 tahun lagi ada yang menanyakan umur Rayyan saat bebas dari pampers, aku bisa mengeceknya di blog ini karena aku pasti lupa. Jangan ditanya bagaimana tips dan caranya supaya anak bisa bebas pampers karena cara aku mungkin tidak terlalu berhasil. Tidak ada istilahnya sekali coba training kemudian Rayyan langsung bisa bebas dari pampers karena proses yang aku lakukan sangat panjang. Aku mencoba sampai 4 atau 5 kali tolet training sampai akhirnya berhasil. Percobaan pertama sampai yang ke empat, tidak berhasil karena Rayyan belum bisa mengatakan langsung ketika dia mau pipis atau buang air besar. Setelah pipis atau buang air besarnya keluar, baru dia lapor. Aku sempat frustasi dan bertanya-tanya kok Rayyan masih belum bisa membaca tanda-tanda akan pipis atau buang air besar di badannya. Kalau untuk aku jaga waktu pipisnya, misalnya setiap setengah jam atau satu jam sekali, selalu rutin dibawa ke kamar mandi, tidak ada masalah kebocoran alias pipis di celana. Tapi kalau akunya lalai saja sedikit, sudah pasti bocor. Oleh karena itu aku sangat bersyukur sekali pada akhirnya Rayyan bisa lulus toilet training.

Target aku adalah supaya Rayyan bisa bebas dari pampers sebelum ukuran pampersnya naik menjadi XXL. Alhamdulillah target bundanya tercapai. Ada cerita lucu mengenai target tersebut. Sebenarnya target tersebut hampir saja gagal karena aku berniat untuk membeli stok pampers XXL untuk Rayyan selama bulan Mei. Ceritanya sih aku sudah putus asa dan menyerah kalah dengan target awal. Berhubung pampers XLnya sudah mulai sempit, aku mau langsung membelikan ukuran XXL. Target itu jadi bisa tercapai karena si Ayah salah membeli ukuran pampers pesananku. Walaupun aku sudah bilang untuk membeli ukuran XXL, tapi si ayah malah tetap membeli ukuran XL. Awalnya niat mau tukar tapi berhubung stok pampers di rumah sudah tidak ada lagi dan aku juga malas harus kembali ke toko tempat beli, jadi aku putuskan untuk tetap pakai ukuran XL di bulan Mei. Pada bulan Mei ini, Rayyan sempat sakit demam lumayan parah sehingga tidak masuk sekolah selama seminggu lebih. Masa seminggu ini lah aku manfaatkan untuk kembali melakukan toilet training kepada Rayyan dan alhamdulillah berhasil. Awal-awalnya masih ada kebocoran baik di rumah atau di sekolah terutama untuk buang air besarnya. Tapi alhamdulillah, di awal bulan Juni ini, jumlah kebocoran pipis atau buang air besar baik di sekolah atau di rumah semakin menurun bahkan hampir tidak ada.

Pamper freenya masih 99 persen karena aku masih belum melakukan toilet training untuk tidur malam. Pada waktu malam, aku memang sengaja untuk tidak memakaikan pampers. Untuk menghindari bau pesing dikala ngompol, aku meletakan perlak anti bocor di kasur Rayyan. Baik aku dan Ayah Rayyan masih belum sanggup bangun di tengah malam untuk mengajak Rayyan pipis. Jadi ya untuk waktu tidur malam, kami biarkan saja Rayyan tanpa pampers dan merasakan sendiri ngompol. Yang paling penting, sebelum tidur kami mengajak Rayyan ke kamar mandi untuk pipis. Selama ini, kadang-kadang Rayyan ngompol dan kadang-kadang juga malah tidak ngompol. Jadi ya untuk waktu malam, kami melatih Rayyan secara pelan-pelan saja.

Tidak ada yang istimewa mengenai cara toilet training yang aku lakukan. Cara standard yang dilakukan para orang tua yang bisa kita dapatkan di internet kalau kita mengetik kalimat "toilet training". Pada awalnya, kita akan bawa si anak ke kamar mandi setiap setengah jam atau satu jam sekali atau bahkan 15  menit sekali, tergantung kuantiti pipisnya si anak. Kemudian ditambah lagi, mungkin setiap dua jam. Pokoknya si orang tua harus konsisten dengan jadwal yang ditetapkan. Kalau si anak sudah ada tanda-tanda mengejan mau buang air besar, segera dibawa ke kamar mandi dan didudukkan di kloset. Si orang tua tidak boleh lengah sama sekali. Siapkan 2-3 hari yang orang tua tidak melakukan kegiatan apapun selain toilet training. Kalau belum berhasil, dicoba lagi terus. Rasanya cara toilet training pada dasarnya seperti itu. Kemudian ditambah dengan kreativitas si orang tau dan tips-tips lainnya. Jadi, cara tersebut diatas aku lakukan sekitar 2-3 kali. Setiap sesi bisa sampai 1-2 minggu lamanya. Ternyata saat itu masih belum berhasil karena Rayyan belum dapat juga reflek untuk mengatakan mau pipis atau buang air besar kepadaku sebelum si pipis atau buang air besarnya keluar. Seperti yang aku bilang diatas, pas cara terakhir ini lah baru berhasil. Pertama kalinya di cara terakhir ini, Rayyan sudah bisa bilang ke aku kalau dia mau pipis dan pipisnya belum keluar.

Aku tulis pengalaman toilet training Rayyan supaya aku dan keluargaku kelak bisa kembali mengenangnya denagn membaca tulisan ini. Tanpa dicatat seperti ini, aku pasti akan lupa atau hanya ingat secara samar-samar....

Wednesday, September 26, 2012

Travelling dan Hotel Budget

Jujur saja aku katakan, setiap kali membaca berita atau cerita tentang pengalaman seseorang travelling ke pelosok dunia, aku menjadi sungguh-sungguh iri. Betapa menyenangkannya mengunjungi tempat-tempat baru yang tidak pernah aku datangi. Tempat tujuan tidak harus tempat-tempat terkenal buat wisata, bahkan tempat yang tidak terkenal malah mungkin lebih menarik.

Tentu saja kalau kita punya hobi travelling, yang paling utama yang harus kita siapkan ya tentu saja duitnya hehehehe. Kalau aku, sama sekali ga masalah untuk menginap di hotel budget atau istilahnya hotelnya backpacker. Malah menurut aku, sayang sekali duitnya kalau habis cuma untuk sewa hotel mahal yang cuma untuk tidur beberapa jam aja (kecuali kalau duit sendiri banyak, ya ga apa-apa kalau mau menikmati hotel mahal).

Pengalaman dua kali menginap di hotel budget sewaktu ke Melaka dan Pinang. Menurut aku, fasilitasnya not bad lah, yang penting ada AC dan water heater. Tapi untuk yang tidak terbiasa dengan suasana hotel budget, akan merasa sedikit khawatir dengan keselamatan hotel. Seperti waktu aku membawa kedua orang tuaku menginap di jotel budget di pinang. Orang tuaku ini sebelum pensiun, keduanya adalah karyawan sebuah Oil and Gas company di Aceh. Fasilitas mewah sudah sering merela rasakan. Jadi aku bisa merasakan kalau orang tuaku agak sedikit canggung sewaktu berada di hotel budget tersebut. Aku cuma bisa minta maaf deh. Berhubung travelling tersebut dibiayai oleh suami dan aku yang masih student ini, baru hotel begini yang mampu kami bayar. Orang tuaku sangat-sangat pengertian sekali. Mereka mengerti sekali dengan keadaan kami yang masih terbatas.

Mengenai keselamatan menginap di hotel budget, jujur saja sih, pada awalnya sih aku juga merasa ragu-ragu. Tapi setelah dua kali merasakan, aku pikir, sama saja lah dengan hotel bintang 2 atau 3 (udah pasti aku ga bakal membandingkan dengan hotel bintang 5 ya). Kedua hotel yang kami pernah tinggal, menggunakan sejenis punch card yang diberikan kepada setiap penghuni kamar. Jadi setiap kali mau masuk ke hotel, tinggal scan kartu yang dikasih. Tanpa kartu, kita ga bakalan bisa masuk, terutama pada malam hari ketika penjaga hotel sudah pulang. Pintu kamar hotel juga pintu yang standard dipakai di hotel-hotel lain. Yang paling penting, di kalangan backpacker, rasanya ada peraturan yang tidak tertulis yang mengatakan "mind your own business" alias jangan mengganggu ketenangan orang lain dan jangan bikin onar di dalam hotel.

So far, begitulah pengalaman aku menginap di 2 hotel budget di Malaysia. Tentu saja kita juga harus tetap berhati-hati dalam memilih hotel budget. Salah satu caranya adalah melihat review dari pengunjung hotel mengenai hotel tersebut di website seperti Agoda.com.my. Kita juga harus percaya dengan instict. Ketika kita ga ngerasa yakin dengan salah satu hotel, segera cari alternative hotel lain. Berdasarkan pengalaman mencari-cari hotel budget, ada beberapa hotel yang terlalu bebas atau terlalu western sekali seperti mengatakan kalau mereka ada pub, alkohol, bar, parties, etc. yang berbau bule having fun lah. Jika sudah seperti itu, untuk kita yang ga ngerasa nyaman dengan aktifitas seperti itu, sebaiknya menjauh saja dari hotel-hotel seperti itu.

Kalau kita travelling dengan beberapa kawan, pastikan kalau kita sudah berdiskusi dengan kawan seperjalanan mengenai hotel seperti apa yang kalian mau. Aku pernah punya pengalaman travelling ke pulau pinang bertiga dengan adikku dan kawan aku sewaktu kuliah. Aku dan adikku tidak punya masalah untuk menginap di hotel budget. Di saat budget kami menipis, kami memutuskan untuk mencari hotel yang lebih murah. Si kawan mempercayakan aku dan adikku untuk mencari hotel dan kami memilih hotel budget. Si kawanku ini saat mengetahui bahwa kami akan booking hotel budget, langsung ketakutan dan khawatir sekali. Dia menyuruh kami membatalkan booking tersebut dan bahkan bersedia membayar lebih asalkan jangan di hotel budget. Kata kawannya dia yang pernah ke pinang, kawasan hotel tersebut rawan dan bahaya. Aku dan adikku pada awalnya agak kesal juga karena menurut kami, tempat tersebut ok-ok saja. Tapi akhirnya kami mencoba mengerti kalau kawanku ini mungkin tipe orang yang tidak biasa dan tidak berani menginap di hotel ala backpacker ini. Mungkin ada hikmahnya dan mungkin kawanku ini punya feeling yang tidak enak mengenai hotel tersebut. Seperti yang aku sebutkan di atas, kita juga perlu mempertimbangkan instinct kita dalam memilih hotel.

Last but not least, kalau memutuskan untuk menginap di hotel budget, jangan mengharapkan fasilitas yang macem-macem ya. Jangan juga mengeluh ini dan itu karena akan sangat menyebalkan sekali. Kalau pengen yang wuah, ya siap-siap untuk mengeluarkan duit lebih untuk hotel yang lebih bagus. Kalau tidak ada duit, lebih baik diam saja dan cukup nikmati saja apa yang ada.

Sekian dan terimakasih.....

Tuesday, May 29, 2012

Semalam di Kampung Acheh


Baru-baru ini, saya, suami dan kawan suami beserta istrinya mengunjungi Kedah, tepatnya Kampung Acheh di kota Yan. Kedah adalah salah satu Negara bagian Malaysia yang berbatasan langsung dengan Siam (Thailand). Perjalanan dari Kuala Lumpur menuju Kedah memakan waktu lebih kurang 6 jam dengan mengendarai mobil. Tujuan utama kami menempuh jarak sedemikian jauh, lebih kurang 444 km,  adalah untuk menghadiri Musyawarah Agung Ikatan Masyarakat Aceh Malaysia (IMAM) yang ke 11. IMAM sendiri adalah satu-satunya persatuan masyarakat Aceh di Malaysia yang didirikan pada tahun 2000. Presiden IMAM adalah Tan Sri Dato’ Sanusi Junid yang merupakan mantan presiden dari International Islamic University Malaysia (IIUM) dan juga mantan Menteri Besar (Gubernur) Kedah. 


Musyawarah Agung IMAM sendiri diadakan di Kampung Aceh Management Centre (KAMC) yang merupakan sebuah village homestay yang dikelola oleh pengurus IMAM. Berbincang-bincang dengan salah satu pengurus KAMC, Cikgu Abdul Rahman, serasa berada di kampung halaman saya di Meureudu. Beliau masih bisa berbahasa Aceh dengan sangat lancar walaupun dilahirkan dan dibesarkan di Kedah. Saya bahkan bertemu dengan cucu beliau yang berumur 4 tahun, beribu Aceh dan berayah Bugis, bahkan bisa berbahasa Aceh dengan pengucapan sangat sempurna. Saya benar-benar kagum dengan penduduk keturunan Aceh di Kedah.

Mari kita kembali ke Musyawarah Agung ke 11 IMAM yang serentak dilakukan dengan acara peresmian Dewan Teungku Muhammad Dahan. Musyawarah dibuka secara resmi oleh Tan Sri Sanusi Junid. Dalam pidato pembukaannya, beliau bercerita mengenai sejarah pemberian nama Dewan tempat diadakannya musyawarah, yaitu Dewan Teungku Muhammad Dahan. Teungku Muhammad Dahan adalah salah satu ulama Aceh yang disegani di Yan, beliau lebih dikenal dengan gelaran Teungku Chik di Yan. Tan Sri Sanusi Junid mempunyai keterikatan yang sangat kuat dengan Teungku Muhammad Dahan karena beliau mempunyai andil besar dalam mempertemukan Tan Sri Sanusi dengan istrinya. Tan Sri juga bercerita tentang orang-orang keturunan Aceh yang mempunyai peran besar dalam memajukan Malaysia seperti Tan Sri Hanafiah Hussain, Tan Sri Elyas Omar dan Tan Sri Kamaruzzaman Shariff. Selain itu, Tan Sri juga bercerita mengenai sejarah orang-orang Aceh yang berada di Kampung Aceh di Yan, Kedah. Pidato Tan Sri diakhiri dengan mengajak semua lapisan masyarakat Aceh di Kampung Aceh, Yan khususnya dan masyarakat Aceh di Malaysia umumnya untuk dapat memberikan kontribusi dalam pembangunan Aceh menuju Aceh yang lebih baik ke depan.  

Dalam Musyawarah tersebut juga, ada salah satu peserta yang mengusulkan untuk menyebarkan Narit Geutanyo keluar Kedah sehingga bisa dibaca oleh seluruh masyarakat Aceh di Malaysia. Narit Geutanyo adalah buletin yang diterbitkan oleh IMAM setiap dua bulan sekali. Ada juga peserta musyawarah yang lain, Dato’ Dr. Abdullah Hasbi Hassan pakar pertambangan Malaysia keturunan Aceh, yang menyarankan agar Tan Sri Sanusi menulis buku mengenai sejarah Aceh di Malaysia agar generasi muda Aceh di Malaysia mengetahui sejarah indatu mereka atau lebih baik lagi jika Tan Sri Sanusi dapat menulis kisah hidup beliau dalam sebuah otobiografi. Musyawarah ini kemudian diakhiri dengan makan siang bersama dengan menu utamanya  Kuah Plik U dan Timphan buatan ibu-ibu kampung Aceh.


Selama lebih kurang sehari semalam berada di Kampung Aceh, Yan, Kedah, saya mempelajari banyak hal. Salah satunya, saya menyadari betapa pentingnya untuk kita menghargai jasa indatu kita dengan mengetahui, mempelajari dan melestarikan budaya kita. Walaupun generasi Aceh di Kampung Aceh lahir dan membesar di sana, bahkan mereka berbicara bahasa Melayu dengan logat Kedah, tapi mereka tetap tidak lupa bahwa mereka adalah orang Kedah keturunan Aceh dengan melestarikan bahasa Aceh dan kebudayaan Aceh di kalangan mereka. Tidak bisa kita pungkiri bahwa masyarakat Aceh di Kedah sudah berasimilasi dengan kebudayaan setempat. Akan tetapi, mereka tetap bangga mengatakan bahwa mereka adalah orang Aceh dan masih tetap melestarikan budaya Aceh salah satunya melalui penggunaan bahasa Aceh dan juga makanan khas Aceh. Rasa kebanggaan sebagai orang Aceh telah mendorong orang-orang Aceh di Malaysia untuk meraih prestasi gemilang yang terukir dengan tinta emas dalam berbagai bidang sehingga nama Aceh tetap harum di Tanah Melayu.

Thursday, March 1, 2012

Mencoba blogging dengan ipod touch

Sudah lama sekali aku ga nukis d blog ini.... Padahal ada internet d rmh. Udah ada ipod touch lagi, seharusnya blogging jadi hal yg mudah dan ga makan waktu. Td baru teringat utk install blogger app dr appstore, jadi post hari ini menjadi ajang testing. Mudah sekali rupanya blogging dg ipod ni.....

Ke depannya, musti rajin2 deh.....

Kali ini aku mau nulis tentang tas baru rayyan. Udah sering liat anak kawan yg masih balita, kelihatan lucu dan menggemaskan sekali kl lagi pakai tas ransel anak2, kayak mau sekolah lah gitu ecek2nya. Jadi udah lama juga aku pengen kali beli tas buat rayyan. Berhubung lagi bokek dan aku pikir tas ransel anak2 pasti harganya sekitaran 30 or 40 ringgit, beih, lg ga ada duit nih, aku tinda saja lah....

Lalu aku menemukan tas lucu gambar angry bird di pasar malam UIA, harga cuma 10 ringgit!!!!!! Kalau maksa nawar, mgkn bs dapat lah 8. Wuah, kl segitu harganya, udah lama aku beli. Berhubung cuma buat licu2an sm rayyan, tas murah meriah juga ga masalah kan, lah paling isinya cuma barang rayyan kalau misalnya jalan2, pampers, baju ganti, susu kotaknya, dan lain-lain. Kalau misalnya beneran usah mulai sekolah, barulah beli tas yg lebih kuat ken anak sekolah kan bawa buku dan peralatan sekolah yg berat....

Bagaimana dengan reaksi rayyan melihat tas barunya? Ah, dia masih 2 tahun, belum mengerti tentang fungsi sebuah tas. Yang dia sebut langsung, "bird....bird...." dia kenal tokoh angry bird ini karena ada di ipod ku dan dia sering nonton angry bird sm macurnya d youtube.....

Aku sungguh bahagia melihat rayyan yg begitu semangat memakai tas barunya, comel sekali.....

Melihat senyumnya yg manja, hilang deh semua penat.... Bunda sayang rayyan......

Sunday, November 20, 2011

Used Stroller Sweet Cherry LK-2R Bravo Alu Stroller For Sale (RM150)

Salam, All,
I have my baby's stroller for sale. I bought it for about 1.5 years ago. The condition is still very good (4 out of 5). The brand is Sweet Cherry (LK-2R Bravo Alu Stroller). For deatil specification, u might need to google ok :).
 here is the pic of the stroller...








The stroller is in a very good condition. One thing is that it is a little bit bulky and heavy but it has many great features especially for small baby/new born. My kelisa is not big enough for this stroller. So if r interested, just give me a call or sms to 0103615356 or email me at rini85@gmail.com. Price is negotiable. The price is not include delivery, however, i suggest that we can meet up somewhere coz the delivery tru post might be costly. I am in Gombak are. Thank you

Sunday, October 23, 2011

Rayyan's Abu Syik misses Rayyan so much....

Baru nurul bilang kalau Abu Syik (artinya kakek kalau dalam bahasa aceh) nya rayyan minta tolong diupload foto-foto terbaru rayyan di facebook atau di blog.... Baru aku teringat kalau aku sudah lama sekali ga update ini blog hehehe, mungkin udah 4 atau 5 bulan lebih hehehehe. Abu syik ternyata udah kangen berat sama Rayyan. Rayyan sekarang udah 22 bulan, udah besar dan sudah pandai banyak hal. Sekarang ini rayyan lagi suka-sukanya nonton kartun upin-ipin dan dengerin Nursery Rhymes di YouTube dengan menggunakan laptop dan ipod bunda. Kalau di rumah ya pake laptop, kalau lagi di luar pakai ipod. Beneran jadi obat yang mujarab untuk mengatasi kemungkinan rayyan akan rewel pas di jalan hehehehehe.

Mengajak rayyan ke kampus nemenin bunda rayyan discussion sama teman2 bunda untuk ngerjain tugas juga udah ga masalah lagi hehehe. Rayyan sangat behave alias baik budi asalkan perut kenyang, ga adalam keadaan ngantuk, susu ada dan ada ipod.

Kemarin sabtu juga rayyan nemenin bunda hiking di FRIM Kepong bersama kawan bunda acik Sikin dan acik Roz, rayyan juga sangat baik budi, happy dan enjoy whole day in FRIM dan mandi-mandi sungai di Hulu Yam. Sepertinya rayyan sama kayak bunda, suka jalan-jalan :)

Pokoknya rayyan sungguh jauh berbeda pas sebelum kali pulang 3 bulan ke aceh, dulu rayyan masih belum kenal laptop atau ipod, belum tertarik sama sekali. Kalau sekarang sudah mulai minta ikut kalay ayah dan bunda pergi, sambil ambil helmnya, minta ikut. Kalau ga dikasih ikut nagis-nangis. He is a big boy now....:)

Rayyan udah kenal huruf hijaiyah lho... Alif, Ba, Ta, Tsa terus lompat ke Kha :). Udah pandai mengucapkannya juga lho, bahkan ucapan Khanya sangat fasih sekali......

Foto-foto di bawah ini untuk Abu Syik rayyan yang udah kangen kali sama rayyan.