Bulan Mei 2013 menjadi bulan yang sangat penting bagi perkembangan Rayyan.
Rayyan pada akhirnya bisa bebas 99 persen dari pampers. Jadi aku bela-belain
lah untuk menulisnya di blog. Tujuan awalnya adalah supaya menjadi catatan
pribadi perkembangan anak. Ketika 5 atau 10 tahun lagi ada yang menanyakan umur
Rayyan saat bebas dari pampers, aku bisa mengeceknya di blog ini karena aku
pasti lupa. Jangan ditanya bagaimana tips dan caranya supaya anak bisa bebas
pampers karena cara aku mungkin tidak terlalu berhasil. Tidak ada istilahnya
sekali coba training kemudian Rayyan langsung bisa bebas dari pampers karena
proses yang aku lakukan sangat panjang. Aku mencoba sampai 4 atau 5 kali tolet
training sampai akhirnya berhasil. Percobaan pertama sampai yang ke empat,
tidak berhasil karena Rayyan belum bisa mengatakan langsung ketika dia mau
pipis atau buang air besar. Setelah pipis atau buang air besarnya keluar, baru
dia lapor. Aku sempat frustasi dan bertanya-tanya kok Rayyan masih belum bisa
membaca tanda-tanda akan pipis atau buang air besar di badannya. Kalau untuk
aku jaga waktu pipisnya, misalnya setiap setengah jam atau satu jam sekali,
selalu rutin dibawa ke kamar mandi, tidak ada masalah kebocoran alias pipis di
celana. Tapi kalau akunya lalai saja sedikit, sudah pasti bocor. Oleh karena
itu aku sangat bersyukur sekali pada akhirnya Rayyan bisa lulus toilet
training.
Target aku adalah supaya Rayyan bisa bebas dari pampers sebelum ukuran
pampersnya naik menjadi XXL. Alhamdulillah target bundanya tercapai. Ada cerita
lucu mengenai target tersebut. Sebenarnya target tersebut hampir saja gagal
karena aku berniat untuk membeli stok pampers XXL untuk Rayyan selama bulan
Mei. Ceritanya sih aku sudah putus asa dan menyerah kalah dengan target awal.
Berhubung pampers XLnya sudah mulai sempit, aku mau langsung membelikan ukuran
XXL. Target itu jadi bisa tercapai karena si Ayah salah membeli ukuran pampers
pesananku. Walaupun aku sudah bilang untuk membeli ukuran XXL, tapi si ayah
malah tetap membeli ukuran XL. Awalnya niat mau tukar tapi berhubung stok
pampers di rumah sudah tidak ada lagi dan aku juga malas harus kembali ke toko
tempat beli, jadi aku putuskan untuk tetap pakai ukuran XL di bulan Mei. Pada
bulan Mei ini, Rayyan sempat sakit demam lumayan parah sehingga tidak masuk
sekolah selama seminggu lebih. Masa seminggu ini lah aku manfaatkan untuk
kembali melakukan toilet training kepada Rayyan dan alhamdulillah berhasil.
Awal-awalnya masih ada kebocoran baik di rumah atau di sekolah terutama untuk buang
air besarnya. Tapi alhamdulillah, di awal bulan Juni ini, jumlah kebocoran
pipis atau buang air besar baik di sekolah atau di rumah semakin menurun bahkan
hampir tidak ada.
Pamper freenya masih 99 persen karena aku masih belum melakukan toilet
training untuk tidur malam. Pada waktu malam, aku memang sengaja untuk tidak
memakaikan pampers. Untuk menghindari bau pesing dikala ngompol, aku meletakan
perlak anti bocor di kasur Rayyan. Baik aku dan Ayah Rayyan masih belum sanggup
bangun di tengah malam untuk mengajak Rayyan pipis. Jadi ya untuk waktu tidur
malam, kami biarkan saja Rayyan tanpa pampers dan merasakan sendiri ngompol.
Yang paling penting, sebelum tidur kami mengajak Rayyan ke kamar mandi untuk
pipis. Selama ini, kadang-kadang Rayyan ngompol dan kadang-kadang juga malah
tidak ngompol. Jadi ya untuk waktu malam, kami melatih Rayyan secara
pelan-pelan saja.
Tidak ada yang istimewa mengenai cara toilet training yang aku lakukan. Cara
standard yang dilakukan para orang tua yang bisa kita dapatkan di internet
kalau kita mengetik kalimat "toilet training". Pada awalnya, kita
akan bawa si anak ke kamar mandi setiap setengah jam atau satu jam sekali atau
bahkan 15 menit sekali, tergantung kuantiti pipisnya si anak. Kemudian
ditambah lagi, mungkin setiap dua jam. Pokoknya si orang tua harus konsisten
dengan jadwal yang ditetapkan. Kalau si anak sudah ada tanda-tanda mengejan mau
buang air besar, segera dibawa ke kamar mandi dan didudukkan di kloset. Si
orang tua tidak boleh lengah sama sekali. Siapkan 2-3 hari yang orang tua tidak
melakukan kegiatan apapun selain toilet training. Kalau belum berhasil, dicoba
lagi terus. Rasanya cara toilet training pada dasarnya seperti itu. Kemudian
ditambah dengan kreativitas si orang tau dan tips-tips lainnya. Jadi, cara
tersebut diatas aku lakukan sekitar 2-3 kali. Setiap sesi bisa sampai 1-2
minggu lamanya. Ternyata saat itu masih belum berhasil karena Rayyan belum
dapat juga reflek untuk mengatakan mau pipis atau buang air besar kepadaku
sebelum si pipis atau buang air besarnya keluar. Seperti yang aku bilang
diatas, pas cara terakhir ini lah baru berhasil. Pertama kalinya di cara terakhir
ini, Rayyan sudah bisa bilang ke aku kalau dia mau pipis dan pipisnya belum
keluar.
Aku tulis pengalaman toilet training Rayyan supaya aku dan keluargaku kelak
bisa kembali mengenangnya denagn membaca tulisan ini. Tanpa dicatat seperti
ini, aku pasti akan lupa atau hanya ingat secara samar-samar....